Buku ketiga karya dr. Putu Arya Nugraha, SpPD siap diluncurkan untuk menyapa pembaca. Dengan tebal 292 halaman, buku berjudul “Filosofi Sehat” yang diterbitkan di bawah bendera Mahima Institute ini memuat 72 esai yang ditulis dr. Arya sejak setahun belakangan. Menariknya, esai dengan bahasa ringan dan santai ini tak hanya mengupas tentang dunia kesehatan semata, tetapi juga merekam beragam kisah dan pengalaman menarik dari dokter yang bertugas di RSUD Buleleng ini.
TIDAK banyak memang ditemukan dokter yang suka menulis dengan gaya mengalir, santai dan ringan. Sebab, jika berbicara urusan kesehatan dalam dunia medis, tentu saja harus serius dan tak bisa-dianggap remeh-temeh. Namun, dalam puluhan esai yang dibukukan dr. Arya, rupanya stigma itu mulai terpatahkan.
Sudah ada tiga buku yang ditelorkan dr. Arya. Buku perdananya berjudul “Merayakan Ingatan”, yang lebih banyak menceritakan kisahnya di pedalaman Kalimantan saat bertugas pada tahun 2000-2005 lalu. Buku keduanya berjudul “Obat Bagi yang Sehat” yang lebih banyak mengupas tentang kisah-kisah konyol ala dokter.
Nah, buku yang ketiga berjudul “Filosofi Sehat” justru tak melulu membahas tentang kesehatan saja. Namun banyak hal, menyangkut filsafat, budaya, agama, medis, kesehatan, sains, alam, perilaku manusia, tradisi.
Semua esai di dalam buku ini sebelumnya sudah pernah dimuat di media tatkala.co. Sebagai seorang dokter, Putu Arya Nugraha memiliki kolom khusus dengan nama “Kolom Dokter”. Di media itu, ia boleh mengisi tulisan kapan saja, seminggu sekali, atau seminggu dua kali, atau bisa seminggu tiga kali.
Esai pertama dr. Arya di “Kolom Dokter” tayang 19 Februari 2019 lalu. Selama setahun hingga 23 Februari 2020 terkumpul 72 esai yang semuanya masuk dalam buku berjudul “Filosofi Sehat – Dari Lawar Getih hingga Virus Corona” ini.
Bila dirata-ratakan, sebulan dr. Arya menulis 6 esai di tatkala.co. Untuk ukuran seorang dokter, ia termasuk amat produktif dalam menulis. Sebagai dokter, ia punya bekal utama, yakni ilmu yang didapat saat kuliah di fakultas kedokteran. Termasuk ilmu-ilmu baru diperolehnya saat menjadi dokter dengan segala teori dan prakteknya.
Sebagai seorang penulis, ia punya bekal tak kalah penting, yakni ilmu sastra, ilmu sosial, ilmu agama, filsafat, dan lain-lain, karena kesukaannya membaca buku apa saja, termasuk buku puisi. Bekal paling penting adalah ia punya sudut pandang yang unik dalam mengulas sebuah tema, termasuk tema-tema serius di bidang medis dan kesehatan.
Bicara soal penyakit, misalnya, ia kadang tak melulu menempatkan diri sebagai dokter, melainkan juga sebagai seorang sahabat yang duduk berdampingan dengan pasien.
Sebut saja esai berjudul: Musuh Dokter itu Bernama Keseriusan, Belajar dari Tubuh, Sudah Jelas Penyebab Storke adala Nasib, Dokter Profesi Paling Lucu, Pemilu, Politik dan Stress, Dokter dan Bahasa Bali, Lawar Getih Menjaga Selera Mengusir Petaka, Ayo Beranak Empat, Tubuh Kita Butuh Stress, Virus Corona Insting Pelestarian dan Sejarah Manusia. dan banyak lagi judul menarik lainnya dalam buku ini. Bahasanya mengalir sejuk, tak menggurui, tak mengancam, apalagi menakut-nakuti.
“Isinya sesuai judul kecil seperti Lawar Getih, Rabies, Penyakit Diabetes, Hipertensi, Stroke termasuk Korona,” ujar dr. Arya ketika ditemui di Ruang Mahotama, RSUD Buleleng, Selasa (29/4) sore.
Sebagai dokter spesialis yang boleh dibilang langka, dr.Arya memang cukup sibuk melayani pasien yang jumlahnya mungkin tak sebanding dengan jumlah dokter. Apalagi kini masyarakat makin sadar untuk memeriksakan diri ke rumah sakit dan dokter spesialis. Pagi, Dokter Arya visit ke ruang perawatan di RSUD, lalu ke rumah sakit swasta, tempat ia juga mengabdikan sekaligus memparaktekkan ilmunya.
Sore hingga malam ia harus melayani warga di ruang praktek pribadinya. Di sela-sela waktu luangnya ia juga mengurus Yayasan SeSama, sebuah lembaga yang hampir setiap hari punya agenda untuk membantu warga tidak mampu, terutama warga tidak mampu secara ekonomi sekaligus juga mengalami masalah kesehatan.
Lalu kapan Dokter Arya punya waktu untuk menulis? Tentu saja di sela-sela waktu yang sempit itu, di antara waktu visit ke RSUD dan waktu visit ke rumah sakit swasta. Atau di sela waktu antara praktek pribadi dengan waktu menjelang tidur di rumah.
Sesempit apa pun kesempatan, bagi seorang penulis yang sudah siap dengan bekal menulis, pastilah bisa dimanfaatkan dengan baik. Dokter Arya punya bekal yang lengkap untuk bisa menulis kapan saja dan di mana saja.
“Sebetulnya setiap orang punya potensi, asalkan tahu kelebihannya. Waktu hanya sepuluh menit pun bisa menjadi sebuah tulisan. Yang penting paham spirit untuk mengamati. Bukan hanya semata melihat saja. Seperti di medis, kami tak hanya melihat dan mendengar pasien saja. tetapi juga harus diamati,” imbuh dokter asal Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar ini.
Dokter yang juga ikut menangani pasien korona ini mengajak dari buku “Filosofi Sehat” agar pembaca melihat semua hal di alam, atau di jagat raya yang selalu berkaitan. Ia mencontohkan dari pengalamannya sebagai dokter.
Misalnya dokter tak harus melihat seorang pasien sebagai orang yang lemah. Tapi bisa melihat pasien dari sudut pandang yang lain. Dimana, pasien sejatinya adalah guru. Menurutntya, dokter dimanapun, sebelum menyentuh pasien, dia tidak akan pernah menjadi dokter. Itu artinya dokter dan pasien tidak pernah dipisahkan. “Di buku ini saya ulas ‘Pasien Guru Yang Sempurna’,” tuturnya.
Contoh lainnya misalnya, kenapa kita rebut soal korona? Betulkan korona mengganggu umat manusia? Kalau kita mau teliti, jangan-jangan kita yang lebih dulu merusak alam. “Ini agak sulit dijelaskan. Tapi memang terkait satu sama lainnya. Di sinilah filosofi buku ini,” jelasnya lagi.
Pria kelahiran tahun 1975 juga berbagai pengalaman menarik saat melayani seorang pasien Ida Bhagawan. Kisah yang dituangkan dalam esai ‘Dokter & Bahasa Bali’ ini bermula saat ia menyapa sang pasien dan bertanya” Rahajeng semeng, Atu, punapi indik ngajeng i wawu?” sang sulinggih kemudian menjawab “Nggih becik-becik,”.Namun berselang beberapa menit setelah dr. Arya selesai melakukan diagnose, kemudian Ida Bhagawan meluruskan pertanyaanya tadi. ”Raos sane patut, nenten je ngajeng, nanging ngerayunang, heheh,” tuturnya menirukan gaya Ida Bhagawan.
Selain itu, dr. Arya juga menulis judul yang kontroversial seperti “Stroke Disebabkan karena Nasib.” Menurutnya, memang stroke karena nasib. Jadi nasib itu adalah Tuhan. “Kalau kita menjelaskan bahwa stroke karena darah tinggi, darah tinggi karena pola hidup dan gen. Nah, pada sisi gen inilah yang tidak ada bisa menjelaskan. Sementara kita masukkan ke kantong nasib, dan inilah kuasa Tuhan,” bebernya.
Ulasannya amat serius semacam Covid-19 atau virus korona yang kini tengah mewabah juga ditulisnya dengan santai. Sebetulnya pengetahuan, sebut dr. Arya, membuatnya tenang. Misalnya katakankah penyakit menular, menular karena apa?
“Kita tahu pencegahannya membuat kita tenang. Secara teoritis, virus korona memang tidak memberikan angkat kematian yang tinggi. Tetapi ketika kita melihat dari kasus kematian di negara maju seperti di Amerika, Italia, atau di Jakarta memang secara manusiawi membuat kita ngeri. Jadi ngeri harus berakhir dari sebuah upaya. Kalau kita ngeri, siapa yang menangani pasien? Ngeri itu memang membuat kita harus menjadi waspada,” katanya lagi.
Esai yang paling berkesan dan cukup banyak rating pembacanya ketika diulas di tatkala.co yakni tentang Lawar Getih. Kesukaannya menyantap menu lawar getih, sebut dr. Arya, sudah mengakar sejak kecil, jauh sebelum ia tahu penyakit Meningitis Babi
Akhirnya, setelah ia ketemu rekan sejawat yang juga ahli saraf, kala itu dr. Arya mengeluh, seringnya menemukan pasien yang menderita Meningitis Babi. Rupanya, sumber penyakitnya dari makanan olahan daging babi yang mentah, terutama darahnya.
“Ya meski tingkat kematiannya tidak tinggi, tapi penyakit ini (meningitis babi, Red) bisa menyebabkan ketulian. Kan ngeri, sehat tapi tuli. Akhirnya saya tulis, karena merupakan tradisi yang “mencelakai”. Mestinya manusia tak hanya melestarikan tradisi, sebaliknya tradisi juga ikut melestarikan manusia,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna