DENPASAR, BALI EXPRESS – Pemprov Bali telah memutuskan untuk meninjau ulang rencananya memberi kelonggaran aktivitas pariwisata untuk turis asing.
Sehingga rencana untuk membukanya pada 11 September 2020 yang ditandai dengan penerapan tatanan kehidupan era baru tahap tiga bakal ditunda. Sebagai gantinya, sampai akhir 2020 ini, Pemprov Bali akan fokus menggarap dan mengoptimalkan kunjungan wisatawan nusantara atau turis domestik.
Meski agak berat, pelaku pariwisata memandang ini sebagai pilihan yang realistis. Hal yang sama juga disampaikan Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry. Bahkan dia mendukung upaya optimalisasi kunjungan turis domestik tersebut.
“Kami dukung. Karena memang itu yang paling mungkin dilaksanakan dalam jangka pendek ini. Kalau mau membuka wisata untuk turis asing, kondisinya belum memungkinkan. Semua negara juga sedang menutup akses warganya untuk berwisata,” ujar Sugawa Korry, Senin (24/8).
Di samping itu, sambung dia, dengan ditundanya pelonggaran sektor pariwisata untuk turis asing, ini menjadi kesempatan memperkuat penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Baik oleh pelaku usaha maupun masyarakat luas.
“Ini (protokol) harus betul-betul dilakukan semua pihak. Bahwa itu wajib dilakukan bila memang ingin perekonomian bangkit lagi. Bergerak kembali,” sebutnya.
Di sisi lain, dia juga mendorong konsistensi pemerintah meningkatkan daya beli. Yakni dengan bantuan stimulus yang proses distribusinya harus tepat sasaran. “Sekali lagi saya tekankan, tidak dengan cara membuat orang lain merasa tidak adil. Apalagi ada kepentingan politik,” tegasnya.
Selanjutnya, sambung dia, pemerintah juga harus segera merealisasikan kegiatan atau program yang diarahkan untuk mengungkit perekonomian saat ini. “Kegiatan yang anggarannya sudah siap harus segera didorong pelaksanaannya. Seperti hibah, proyek-proyek, dan sebagainya yang berkaitan dengan upaya pemulihan ekonomi,” ujar politisi yang juga Ketua DPD I Golkar Bali ini.
Yang paling penting dilakukan, sambung dia, pemerintah juga harus membuat terobosan untuk mengoptimalkan kunjungan wisatawan domestik. Ini bisa ditopang dengan menerapkan strategi MICE atau Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition. Caranya dengan mengarahkan kementerian, lembaga, maupun BUMN di pusat melakukan rapat-rapat atau kegiatan di daerah-daerah wisata.
“Seperti beberapa waktu lalu. Kemenko Perekonomian melakukan pertemuan tingkat menteri. Melibatkan sembilan kementerian. Di rapat tersebut melakukan koordinasi. Sementara untuk ibu-ibunya ikut melakukan kegiatan penyerahan bantuan stimulus. MICE ini salah satu yang perlu dioptimalkan. Baik itu di Bali, Yogja (Yogjakarta), atau daerah wisata lainnya,” tukasnya.
Soal bantuan bagi para pengusaha yang sudah enam bulan tidak mendapatkan income, dia memandang oemerintah perlu juga untuk memikirkannya. Setidaknya, mereka diberikan kemudahan untuk bisa menjalankan usahanya. Entah dengan cara memberikan stimulus atau bantuan berupa pinjaman lunak. “Saya pikir, ini memang pilihan yang sulit. Tapi ini alternatif yang bisa dilakukan. Di sisa waktu empat bulan di tahun ini, saya pikir masih ada yang bisa dilakukan. Sekecil apapun itu. Daripada tidak ada upaya sama sekali. Malah jadi parah,” ujarnya.
Editor : Nyoman Suarna