Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngukup, Cara Sederhana Membuat  Air untuk Tirta Higienis

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 25 September 2020 | 14:20 WIB
Ngukup, Cara Sederhana Membuat  Air untuk Tirta Higienis
Ngukup, Cara Sederhana Membuat  Air untuk Tirta Higienis

DENPASAR, BALI EXPRESS-Tirta atau air suci sangat penting dan wajib ada saat umat Hindu melakukan yadnya. Termasuk saat  persembahyangan sehari-hari di rumah. Bahkan, soal higienitas Tirta pun sudah dipertimbangkan, sehingga dikenal dengan istilah Ngukup.


Namun, Ngukup tak banyak dilakukan umat karena banyak faktor, terutama alasan waktu dan tidak bisa melakukannya.


Leluhur Bali telah mewariskan ilmu pengetahuan yang amat luas, dan mempertimbangkan sisi kesehatan saat sembahyang. Ini diaplikasikan untuk proses membuat Tirta yang dinamai Ngukup.


Ngukup tujuannya supaya air untuk Tirta ini aman untuk diminum setelah selesai melakukan persembahyangan, serta aman dipergunakan berkali-kali. Bahkan, rasa dari Tirta itu juga menjadi berbeda.


Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa dari Prodi S3 Ilmu Agama, Sri Putri Purnama Wati, menjelaskan, Ngukup Tirta ini adalah proses membuat Tirta menjadi higienis dengan bahan-bahan alami. Karena tujuannya nanti adalah Tirta tersebut nantinya dikonsumsi, baik itu secara massal maupun pribadi.


Dijelaskan Sri Putri Purnama Wati, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk Ngukup adalah dua buah payuk atau periuk dari tanah, yang salah satunya diisi dengan air bersih. Kemudian, disiapkan juga 12 kayu yang berbeda. Kayu-kayu tersebut diantaranya Kayu Dadab, Kayu Gaharu, Kayu Cendana, Kayu Cempaka, Kayu Sandat, Kayu Pule dan Kayu Nangka.


“Nah soal bahan itu, terutama kayu, karena sekarang susah mendapatkan kayu seperti Gaharu, Cendana dan lainnya, maka boleh disederhanakan,” ungkap Sri Putri Purnama Wati, baru baru ini di Denpasar.


Ditambahkannya, kayu itu bisa saja disederhanakan, misalnya dengan kayu yang didapat saja.  Apalagi ada kayu-kayu yang saat ini sudah sangat langka. Kalaupun ada,  itu juga harus merogoh uang yang tidak sedikit. “Kayu-kayu itu ada dalam Lontar Taru Pramana,” paparnya.


Kayu-kayu tersebut kemudian dibakar sampai mengepulkan asap. Selanjutnya, periuk kosong itu, bagian dalamnya diasapi dari hasil pembakaran kayu-kayu tersebut.


Usahakan, asap agar memenuhi bagian periuk yang kosong tersebut dengan rentang waktu yang lumayan lama. Setelah dirasa sudah cukup, lanjutnya, sesegera mungkin air yang berada di periuk satunya dimasukkan ke periuk yang sudah diasapi tersebut.


“Proses Ngukup ini  sudah dari dahulu dilakukan leluhur kita. Setelah air itu dimasukkan, sudah bisa digunakan sebagai sarana untuk tirta, dan bahkan bisa disimpan dengan waktu yang lama,” urainya.


Air dari proses Ngukup tersebut, lanjut Sri Putri Purnama Wati, juga untuk menjaga Tirta agar tidak tercemar karena bisa ditumbuhi lumut bila disimpan. Juga, tidak dihinggapi nyamuk untuk bertelur.


“Proses pengasapan itu jika ditarik ke sisi sekalanya adalah untuk memberikan unsur klorin ke air atau Tirta tersebut. Karena nanti Tirta itu kan diminum, dan bakteri juga tidak mudah berkembang,” paparnya.


Ditambahkannya, air yang dipergunakan juga tidak boleh sembarangan. Yang jelas air tersebut harus berasal dari sumber mata air yang bersih dan tidak tercemar, yang siap diminum. “Bila memungkinkan didapat dari klebutan (mata air),” tegasnya.



Editor : I Komang Gede Doktrinaya