GIANYAR, BALI EXPRESS – Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar melakukan perawatan lontar di Banjar Antugan, Desa Blahbatuh, Kamis (1/10).
Ada 50 cakep lontar, dan 17 cakep berhasil teridentifikasi. Perawatan dan konservasi itu dilakukan guna menghilangkan dan memaknai kesan tenget pada sebuah lontar. Sebab jika tidak dibuka dan dipelajari lontar bisa rusak dimakan ngetnget (rayap).
Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Blahbatuh, Ni Wayan Miani, menjelaskan, tujuan kegiatan itu dilakukan untuk melestarikan peninggalan dan warisan leluhur, merawatnya supaya kondisinya lebih baik.
"Di Blahbatuh cukup banyak yang memiliki lontar, tapi terkendala masih kurang pemahaman dari pemilik lontar karena dianggap tenget (sakral), hingga akhirnya rusak dimakan ngetnget (rayap),” jelasnya.
Dengan adanya istilah lontar tenget tersebut, membuat pihaknya terkendala melakukan konservasi. Dikatakannya, lontar ibarat sebuah buku yang berisikan aksara dan memang harus dirawat untuk dipelajari. Bukan hanya dipajang pada tempatnya.
“Lontar itu tidak ada yang tenget, dan tugas kami di sini untuk merawat lontar yang ada. Bukan hanya dipajang atau diletakkan begitu saja di tempatnya. Jika tidak dibuka dan dirawat lama kelamaan akan rusak,” sambungnya.
Diakui Miani di Blahbatuh terdapat banyak lontar, dan pemiliknya hanya mendiamkan saja. Lantaran masih dianggap tenget, sehingga rusak dan kondisinya berhamburan di tempatnya. Ketika itu diizinkan untuk dirawat dan dikonservasi oleh pemiliknya, ia dan penyuluh yang lainnya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengelompokkan lontar tersebut.
“Untuk konservasi itu satu cakep lontar memerlukan 30 menit, yang lama itu adalah mengindentifikasi lontar tersebut. Sesuai pendataan lontar di wilayah Blahbatuh itu rata-rata tentang usadha,” ucapnya.
Pada tempat yang sama, Bendesa Adat Antugan, Ngakan Made Sukarsana, menjelaskan, di desanya terdapat dua titik pemilik lontar. Sementara saat ini yang berkenan lontarnya dirawat adalah milik Dewa Ngakan Mangku. Diberikan dirawat dan dikonservasi lantaran dari dahulu memang lontar itu tidak terjamah.
“Di sini ada dua lokasi yang mengizinkan untuk dikonservasi, sehingga berkat bantuan dari penyuluh, kami bisa menjaga dan merawat lontar yang ada. Kedepan juga akan kami sampaikan kepada pemilik lontar yang lain, untuk diberikan pemahaman agar lontar yang ada dirawat supaya tidak rusak dimakan rayap. Untuk lontar milik Jero Mangku ini terdapat 50 cakep, tapi 17 cakep yang berhasil teridentifikasi,” imbuhnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya