Fisik tergolong renta, tetapi Wayan Tegteg menolak disebut tua. Pensiunan guru SD di Selat, Karangasem itu masih kuat naik-turun Gunung Agung meski berusia 65 tahun. Dia juga perokok berat. Alasan itu tidak membuatnya berhenti menaklukkan gunung. Hitung-hitung berolahraga. Dialah satu di antara sekian pemandu pendaki yang lansia.
MAMPU menaklukkan Gunung Agung di Karangasem adalah impian Wayan Tegteg sejak lama. Siapa menyangka, sosoknya sebagai pemandu di Gunung Agung terdengar sampai ke telinga para penjelajah gunung berbagai kelas. Tegteg memulai petualangannya Maret 2000 dengan modal coba-coba. Tak sedikit yang menyangsikan kemampuannya karena tak dibekali pengalaman mumpuni. Menandai setiap perjalanan bersama orang lokal adalah cara dia belajar menjajal rute.
"Ya belajar menghafal rute dulu. Saya beri tanda setiap perjalanan, dan saat turun gunung berusaha mengingat tanda itu. Baru beberapa hari kemudian saya mendapat tamu. Awal-awal juga pernah nyasar gara-gara salah rute. Saya cuma bilang maaf karena terlalu asyik ngobrol, jadi jalurnya lewat," tutur Tegteg mengurai ceritanya saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) baru-baru ini.
Wayan Tegteg sekarang aktif bersama asosiasi pemandu pendaki, Karangasem Trekker Association atau KATA. Tegteg juga tergabung di wadah para pendaki gunung profesional se-Indonesia, APGI atau Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia. "Ada belasan anggota termasuk saya di Bali. Ketuanya Pak Ketut Mudiada," ucap Tegteg yang mengaku tidak pernah mendaki gunung di luar Bali.
Tegteg tidak memungkiri, mendaki membuat kesehatannya terjaga. Hal ini pula yang jadi alasan Tegteg tidak melepas pekerjaannya. Bicara gaya hidup, Tegteg mengaku perokok berat. Lebih dari dua bungkus rokok bisa dia habiskan sehari. Dia tidak bisa berhenti dari kebiasaan merokok. Meski begitu, ayah dua anak itu mengaku merasa seperti biasa saja. Tidak pernah merasakan masalah dengan paru-paru.
Bukan cuma itu, otot kaki, lutut, sampai persendian yang lain tak masalah. Tidak seperti orang tua kebanyakan yang mulai bermasalah di persendian akibat produksi minyak sendi mulai berkurang. Tegteg tetap enerjik. Pendakian hampir setiap hari dilakoni. Seolah mengangkut barang dengan berat antara 7-12 kg sampai puncak seperti tak membebani langkahnya.
"Mungkin karena banyak bergerak, jadi saya tetap sehat. Mendaki ini kan olahraga. Hampir setiap hari saya mendaki. Hitung-hitung terapi paru-paru biar tetap sehat. Saya perokok berat, lho, tapi masih kuat. Mudah-mudah tetap kuat. Untuk sekarang rehat dulu karena pandemic. Jadi jarang ada tamu yang naik (gunung). Rekomendasi tidak beraktivitas di radius 2 km dari puncak juga masih berlaku. Status gunung waspada," ujarnya.
Wayan Tegteg adalah pensiunan guru SD. Dia mulai mengajar sejak Januari 1977 di Nusa Penida, Klungkung sebagai guru matematika. Selama lima tahun mengabdi, kakek asal Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung ini ditarik ke Kecamatan Selat, Karangasem dan bertugas di SDN 1 Selat selama 18 tahun. Dia lantas menetap di sana dan membuka warung nasi sampai kini dengan mengontrak tanah milik warga setempat.
Berangkat dari penghasilan sebagai guru SD yang terbilang sangat cukup, Wayan Tegteg mantap menyambi jadi guide di Gunung Agung. Sementara istrinya jaga warung. Pendakian pertama dimulai tahun 2000. Saat itu, upah pertama memandu dua tamu sampai puncak Rp 20 ribu. Menurut dia bayaran segitu sudah termasuk tinggi kala itu. Dia kerap membagi waktu karena aktif mengajar. Dia baru bisa memandu total ketika akhir pekan atau hari libur.
Bukan cuma alasan finansial, Tegteg mengaku senang berpetualang. Mendapatkan ketenangan di atas puncak sambil menikmati matahari terbit menjadi motivasinya. Seiring melakoni peran sebagai guru, Tegteg mulai dapat perhatian di kalangan komunitas pecinta alam. Namanya mulai disejajarkan dengan pemandu profesional setelah sempat mengawal pendaki yang rupanya bekerja di perusahaan penerbitan. "Waktu itu guide belum banyak seperti sekarang. Saya bisa gaet tamu menawarkan ke penginapan sekitar," kenangnya.
Momen mengharukan sempat dia rasakan saat berada di puncak. "Saya sempat menangis kalau ada di atas (puncak). Rasanya indah sekali. Selalu saya ucapkan syukur kepada Tuhan, saya diberikan kebahagiaan selama hidup. Seperti tidak percaya dapat kesempatan itu dari atas walaupun saya sudah tua. Betul itu. Sampai saya menangis, teriak juga pernah saking terharunya," kenangnya lagi.
Hal buruk apa yang pernah dirasakan? Wayan Tegteg mengaku sempat dicaci maki pendaki gara-gara nyaris terpeleset dan menilai rute yang diarahkan Wayan Tegteg tidak sesuai. "Ya memang ada saja yang begitu. Padahal terpeleset bisa saja karena kekuatan kaki sudah melemah karena lelah atau faktor lain. Sudah saya arahkan pelan-pelan saja. Tidak usah buru-buru. Tapi saya dibilang lalai. Saya tetap sabar. Namanya kasih pelayanan," tuturnya mengenang awal-awal memandu pendaki.
Agar tidak terulang, Tegteg biasanya selalu memberi arahan. Misalnya apa saja yang perlu disiapkan. Masalah teknis saja tidak pernah lewat, meski orang yang dihadapi sudah berpengalaman menjelajah gunung di berbagai tempat. Baginya, pengarahan tetap penting. Kata Tegteg, memang antara pemandu dan pendaki sudah sepakati aturan. Jika sanggup naik, akan tetap dipandu sampai puncak. Begitu sebaliknya.
Di sisi lain, ada pula pendaki yang baik hati memberikannya bayaran full meski tidak sampai di puncak. Pendaki itu mengaku lelah dan meminta untuk turun. "Biasanya saya kembalikan upah 25 persen karena belum mengantar sampai puncak. Saya kan tidak enak menerima full. Di sana jeleknya saya. Saya bukan pebisnis. Saya ikhlas memandu. Saya juga puas," ucapnya.
Menurut Tegteg, Gunung Agung punya karakter berbeda dengan gunung lain di Bali maupun di Nusantara. Gunung dengan ketinggian 3.142 mdpl itu juga selalu menorehkan cerita mistis. Secara niskala, ada saja hal-hal di luar logika dialami Tegteg dan para pendaki. Tak heran, Gunung Agung adalah gunung suci yang disakralkan masyarakat Bali. Jadi Tegteg selalu mewanti-wanti para pendaki agar menjaga norma-etika selama menaiki puncak.
Wayan Tegteg pernah mendengar suara air dituangkan dari teko ke gelas, namun tak satu pun di antara mereka ada yang minum air. Apalagi perlengkapan tidak ada yang dikeluarkan dari tas. Karena itu, pendaki diminta istirahat. Menurut Tegteg, sekecil apapun tanda yang dirasakan, artinya pendaki diminta untuk berhenti atau tidak memaksa melanjutkan perjalanan. "Kita harus percaya bahwa ada penghuni lain. Tanda-tanda itu peringatan. Dulu saya tidak menghiraukan, setelah itu saya tersandung hampir jatuh," kenangnya.
Pernah juga kejadian, pendaki mencium aroma masakan yang sangat enak. Masalahnya sama, tidak ada orang yang memasak. Apalagi mereka berada di tempat yang jauh dari pemukiman warga, jadi sangat mustahil. Tegteg lagi-lagi meminta pendaki untuk jaga perilaku saat mendaki. Menurutnya, pendaki harus memikirkan kepercayaan dan logika harus berjalan seirama. "Kita di Bali harus percaya, tidak bisa hanya pakai logika, harus balance keduanya," ingatnya.
Pria kelahiran 1954 itu terkenal keras kepala. Beberapa kali keluarga memintanya berhenti menjadi guide pendaki, tapi tak pernah digubris. Anak-anak khawatir sesuatu buruk menimpa ayahnya mengingat medan ekstrem. Sebab mendaki butuh kekuatan fisik yang prima. Sementara dirinya sudah menginjak kepala enam. Apa daya, Tegteg tetap dengan egonya. Dia memilih menikmati petualangannya sampai fisik tak sanggup menopang.
"Dulu saya pernah hampir terjatuh karena berdiri terlalu di pinggir jurang. Saya waktu itu kaget. Tiba-tiba ada yang mau minta foto sama saya nengok dari belakang. Saya tidak mungkin menolak. Cuman saya kasih pesan, 'besok-besok jangan bikin kaget'. Hal-hal itu yang bikin keluarga khawatir. Ya saya selalu sampaikan, kapan mendaki, sama siapa, sudah sampai di mana, selalu saya kabari ke istri, anak-anak," kenangnya.
Meski usianya sudah tua, kenikmatan batin saat mendaki jadi alasan dirinya untuk tidak berhenti mendaki Gunung Agung. Kecuali, sampai fisiknya betul-betul tidak bisa diajak kompromi. Sepanjang itu, dia akan tetap berusaha meyakinkam keluarga kalau mendaki ini tak membuatnya celaka. "Masalah fisik saja yang mungkin membuat saya istirahat," tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna