Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Beroperasi di Tengah Pandemi, Coffee Shop Prioritas Disiplin 3M

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 23 November 2020 | 12:00 WIB
Beroperasi di Tengah Pandemi, Coffe Shop Prioritas Disiplin 3M
Beroperasi di Tengah Pandemi, Coffe Shop Prioritas Disiplin 3M

SINGARAJA, BALI EXPRESS ­– Berbicara tentang coffee shop, yang terlintas di benak adalah tempat nongkrong kekinian dan instragamable. Selain itu, pastinya ada mesin kopi yang dipajang dekat meja kasir untuk menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah tempat ngopi yang hits.


Biasanya kafe-kafe tempat ngopi para anak muda zaman sekarang ini banyak dihiasi dengan lampu yang gemerlap sehinga tampak mewah.


Namun berbeda dengan tempat nongkrong di Singaraja. Tempat ngopi satu ini terbilang unik. Meskipun tengah digempur dengan wabah pandemi, coffee shop ini tetap beroperasi seperti biasa. Namun anjuran penerapan protokol kesehatan menjadi prioritas utama di tempat ini.


Pengunjung wajib mencuci tangan dengan sabun saat memasuki areal kafe. Wajib menggunakan masker juga harus dilakukan. Hal yang tidak kalah penting adalah wajib menjaga jarak dan menghindari kerumunan antar pengunjung.


Satu meja maksimal diisi oleh dua orang. Apabila datang bersama keluarga yang lebih dari empat orang, maka pengelola menyediakan tempat khusus di bagian belakang agar penerapan protokol kesehatan tetap berjalan. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga jarak aman antar pengunjung di tempat umum.


Selain penerapan protokol kesehatan yang ketat, yang terlihat unik dari tempat ngopi satu ini adalah lokasi dan viewnya. Tidak seperti tempat ngopi pada umumnya yang memanjakan mata dengan mesin kopi, di tempat yang diberi nama Ko-Vaitnam ini menyuguhkan pemandangan bangunan design Belanda.


Dari tempat itu pengunjung masuk ke area kafe melalui pintu berbentuk candi peninggalan jaman dulu. Di dalam kafe pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai benda-benda unik dan antik. Selain antik, ada pula barang tua dan langka yang dipajang di tempat ini. Setiap benda yang dipajang di tempat itu memiliki cerita tersendiri.


Salah satu benda yang sulit didapat adalah gelebeg. Benda tua ini dimodif menjadi dapur semi bar yang diletakkan di bagian depan, sekaligus sebagai meja kasir. Benda-benda ini pun dikumpulkan oleh si pemilik Made Dwi Okariasa bertahun-tahun sejak ia menjadi sales salah satu dealer motor.


Benda yang banyak memiliki kenangan dengan owner sendiri adalah meja bola adil. Sebab dahulu si pemilik sangat gemar bermain bola adil. Namun karena sekarang sudah berhenti, maka meja tersebut dipajang di salah satu sisi kafe.


“Meja bola adil itu punya cerita. Kakak saya suka main bola adil di Denpasar. Jadi ini dipasang di sini untuk mengenang,” ungkap pengelola kafe, Ketut Catur Meditayasa.


Selain meja bola adil, benda-benda kuno lainnya yang dipajang di tempat ini ada guci, pompa air tahun 90-an, radio-radio tua, mesik ketik, perkakas, alat bajak sawah, alat musik Penting, kaca rias dengan design jaman kerajaan, kursi kayu tahun 80-an, daun pintu tua hingga samurai yang diperkirakan berangka tahun 1980-an.


Benda-benda tua ini difungsikan sebagai interior kafe. Unik dan menarik. Selain menyajikan suasana klasik, pengunjung yang datang juga dapat mengenang masa-masa lampau, saat mereka sempat menikmati dan memakai barang-barang tersebut pada zamannya.


“Ada upaya edukasi juga sebenarnya, selain membangun kenangan dari pengunjung yang datang. Kalau pengunjung melihat salah satu benda tua di sini, pasti mereka teringat masa lalu,” jelas Catur.


Di sisi lain, owner Ko-Vaitnam, Made Dwi Okariasa menjelaskan, nama Ko-Vaitnam itu berarti kopi pahit tujuh enam, kopi yang dibuat dalam rumah di Jalan Bisma Nomor 76. “Banyak yang salah sebut bilangnya Vietnam. Tapi Ko-Vaitnam,” katanya singkat.


Dwi pun menceritakan, semua benda-benda antik yang dibelinya dengan harga fantastis itu memiliki tempat tersendiri di hatinya. Pria kelahiran bulan Oktober ini pun lebih memilih barang-barang antik miliknya pecah berkeping-keping daripada hilang.


“Kalau kenapa-kenapa barang saya, rasanya sakit hati sekali. Lebih baik pecah daripada dicuri orang atau hilang. Kalau pecah kan saya lihat sendiri barangnya. Tapi kalau dibawa orang, itu rasanya tak bisa dijelaskan. Pasti tidak terlihat lagi. Saya susah carinya,” tuturnya sembari menunjukkan salah satu keramik antik berangka tahun 1587.


Sebelum menjadi sebuah coffee shop, tempat tersebut adalah tempat pengembangan bonsai. Karena terdampak Covid-19, bisnis bonsai anjlok. Lalu Dwi bersama adiknya Catur serta beberapa rekannya mencoba membuka sebuah usaha yang diawali dengan bazar kecil-kecilan. Lambat laun, pengunjung yang datang semakin banyak dan selalu ada orang baru. Akhirnya, mereka memberanikan diri untuk memulai usaha coffee shop ini.


“Awalnya coba-coba aja. Karena terdampak pandemi juga jadi buat ini. Saya dan kakak mulai menata tempat, setiap harinya ada saja orang baru yang datang. Ada juga yang sudah pernah datang, datang lagi bahkan ngjak temennya. Jadi mulai opening untuk coffee shopnya ini dari tanggal 5 Juni 2020 lalu,” jelas Catur.


Menu yang disajikan di coffee shop ini sama seperti angkringan pada umumnya. Harganya pun terjangkau. Minuman yang disajikan tidak hanya kopi, ada pula minuman lainnya dengan harga di bawah Rp 10 ribu. Hingga kini Ko-Vaitnam menjadi salah satu tempat nongkrong favorit di kalangan pelajar, mahasisa hingga masyarakat umum.

Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#singaraja