GIANYAR, BALI EXPRESS - Tak ada yang menyangka jika kebakaran hebat melanda Pasar Umum Blahbatuh Selasa (15/6). Padahal pasar yang dibangun sejak tahun 80an itu menjadi tempat ratusan pedagang menggantungkan hidupnya.
Pasar itu pun memiliki sejarah yang cukup panjang, dimana sebelumnya pada tahun 1958 Pasar Blahbatuh ada di telajakan halaman Puri Ageng Blahbatuh. Semakin hari, pasar pun semakin ramai sehingga dipindahkan ke barat daya puri tepatnya lokasi saat ini.
Menurut Penglingsir Puri Ageng Blahbatuh, Anak Agung Alit Kakarsana, pasar dipindahkan dari telajakan puri ke lokasi saat ini sekitar tahun 1987. "Kalau tidak salah sekitar tahum 1987," ujarnya Kamis (17/6).
Lebih lanjut, dirinya menyebutkan jika pada awal zaman kemerdekaan, Puri Blahbatuh memang dijadikan sebagai pusat fasilitas umum untuk masyarakat oleh pemerintah kala itu. Dan juga dijadikan pusat perekonomian masyarakat.
"Zaman dulu leluhur merintis pasar, namanya tenten, lokasinya sesuai dengan palemahan puri dimana pura melanting itu ada di barat daya puri," sebutnya.
Hanya saja di tahun 1958, karena kondisi pasar tenten saat itu sudah tidak layak, Pasar Blahbatuh dipindahkan ke telajakan halaman barat puri. Kemudian pada tahun 1987, karena situasi pasar mulai ramai ada usulan dari desa dengan pemerintah kabupaten kala untuk dipindahkan ke lokasi sekarang. "Dan setelah pasar di bangun, tanah telajakan puri kembali di manfaatkan puri," imbuhnya.
Kendatipun demikian, peran Puri tidak serta merta hilang, karena masih ada lahan 'due' sekitar 10 are lebih yang digunakan pemerintah sebagai pasar. Termasuk sejumlah tempat penunjung fasilitas umum. "Saya juga masih ingat betul bagaimana pihak desa dan pemerintah kala itu rapat di puri untuk diberikan hak guna pakai sejumlah lahan puri untuk dijadikan fasilitas umum," bebernya.
Untuk status lahan saat ini, Agung Kakarsana mengatakan jika hal tersebut masih dikomunikasikan pemerintah. Dimana pada zaman dahulu hanya diberikan hak pakai saja. "Tugu Pahlawan, Pasar sekarang setengah, dan SMP Negeri, sebab saat itu pemerintah dulu belum ada lokasi stretegis, dan tidak ada anggaran pembebasan lahan. Maka diberikan karena puri juga merasa harus mengayomi masyarakat," tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna