SINGARAJA, BALI EXPRESS- Kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur seolah tiada hentinya terjadi di Buleleng. Dalam kurun Januari sampai Agustus 2021, tercatat sebanyak 6 kasus persetubuhan di bawah umur. Ironisnya, hingga kini pemerintah juga belum menyiapkan fasilitas rumah aman bagi korban kekerasan maupun pelecehan seksual.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng, Made Arya Sukerta tak membantah jika Buleleng belum memiliki rumah aman. Ia mengaku jika rumah aman menjadi tempat berlindung sementara bagi korban kekerasan dalam masa pemulihan trauma.
"Memang dari pemerintah pusat meminta daerah untuk siapkan rumah aman buat para korban. Namun melihat kondisi keuangan daerah dalam pandemi ini, masih sulit jadi harus ditunda dulu," kata Arya Sukerta, Senin (23/8) siang.
Dikatakan Arya Sukerta, rumah aman sangat vital dan penting dibangun. Namun, mengingat kondisi sekarang ini, tidak bisa disediakan. Sebab, memerlukan biaya yang memang cukup besar termasuk juga biaya operasional didalamnya.
Untuk sementara waktu, pihaknya pun meminta peran serta dari keluarga korban mendampingi, dan menjadi garda depan melindungi korban, dari pemulihan psikisnya. "Solusi sementara, kami percayakan pada keluarga yang dipercaya korban, sambil kami yang datang untuk melakukan pendampingan," imbuhnya.
Terakhir yang menjadi perhatian penuh Dinas P2KBP3A Buleleng, adalah kasus persetubuhan yang dilakukan seorang ayah berinisial NS, 47 terhadap putri kandungnya di wilayah Kecamatan Sawan. Pihaknya pun sangat menyayangkan ulah bejat tersangka. Kasus tersebut, diakui Arya Sukerta, akan menjadi beban yang berat bagi korban, terlebih pelaku adalah ayah kandung korban.
Tim dari Dinas P2KBP3A pun rutin turun melakukan pendampingan pada korban, agar kondisi psikisnya cepat membaik. "Kami tugasnya hanya pendampingan, pulihkan psikis agar dapat menatap masa depan," ujar Arya Sukerta.
Dinas sebut Arya Sukerta akan berupaya untuk mendampingi korban kendati hingga saat ini rumah aman masih belum ada di Buleleng. "Kedepan kalau kondisi keuangan daerah membaik, tentu kami upayakan untuk menyediakan rumah aman. Kami harap, ini bisa menjadi kasus terakhir, sehingga kedepan tidak ada lagi kasus menimpa anak," tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna