SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Buleleng dari sektor Pajak Hotel dan Restoran (PHR) masih belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Realisasinya pun masih di bawah 50 persen.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Sugiarta Widiada menerangkan, realisasi hotel per 6 Oktober 2021 sejumlah Rp 5,5 miliar lebih dari anggaran Rp 19 miliar. Begitu juga dengan restoran. Realisasinya sejumlah Rp 6,4 miliar dari anggaran Rp 14 miliar. Sementara untuk pajak hiburan baru terealisasi Rp 269 juta lebih dari anggaran Rp 965 juta lebih. “Untuk hotel baru 29,46 persen, restoran 45,98 persen dan hiburan baru 27,97 persen. Ini masih jauh dari target 100 persen,” kata dia.
Dari tiga sektor pajak dalam PHR, sektor pajak restoran menunjukkan peningkatan walau tak banyak. Sebab, pendapatan diperoleh dari kontribusi cafe serta angkringan yang sudah mulai buka. “Cafe-cafe dan tempat nongkrong itu banyak membantu pendapatan kas daerah,” tambahnya.
Sugiarta menambahkan, selain pajak hotel, restoran dan hiburan, yang menunjukkan realisasi di atas 50 persen adalah PBB P2. Realisasinya mencapai Rp 19 miliar lebih. Pihaknya optimis untuk sektor PBB P2 dapat mencapai target 100 persen. “Yang paling banyak itu di sektor PBB P2. Kami yakin bisa capai target 100 persen. Apalagi ada diskon untuk PBB P2 itu,” jelasnya.
Pun demikian Sugiarta belum yakin dapat mencapai target 100 persen untuk keseluruhan sektor pajak. “Di triwulan III keseluruhan tidak bisa capai target. Meski mencapai 50 persen belum bisa juga menutupi kekurangan keuangan daerah,” terangnya.
Ia pun berharap penerbangan internasional segera dibuka sehingga akan berimbas pada hunian hotel dan kunjungan pada restoran. Dengan demikian secara otomatis pendapatan daerah juga akan mengalami peningkatan. “Kalau ini dibuka harapannya kan ada pendapatan yang meningkat. Dan di triwulan ini yang menyangkut phr ada tiga ada hotel restoran dan hiburan. Harapan kami kalau dibuka ini akan meningkat juga pendapatannya. Dengan adanya kunjungan wisata hunian meningkat begitu juga dengan transaksi di makanan minuman di restoran. Jadi trennya sudah ada beberapa. Tapi belum banyak karena penerbangan Internasional belum dibuka,” tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna