Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pencarian Korban Hanyut di Buleleng, Diterawang Tujuh Balian hingga Mapag Gong

I Putu Suyatra • Sabtu, 22 Januari 2022 | 05:07 WIB
MAPAG GOGN: Keluarga korban yang hanyut terseret arus menggelar ritual Mapag Gong di muara Tukad Buleleng. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
MAPAG GOGN: Keluarga korban yang hanyut terseret arus menggelar ritual Mapag Gong di muara Tukad Buleleng. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Upaya sekala-niskala dilakukan untuk menemukan korban yang hanyut terbawa arus sungai pada Sabtu (15/1) lalu. Hingga kini dua korban, Ni Luh Wardani, 48 dan putrinya Kadek Restini, 9 belum juga ditemukan. Tim pencarian masih tetap disiagakan. Namun hingga Jumat (21/1) pagi, belum ada tanda-tanda penemuan terhadap korban ibu dan anak tersebut.

Pihak keluarga juga membantu upaya pencarian secara niskala. Jumat (21/1) pagi nampak beberapa anggota keluarga menggelar ritual Mapag Gong di muara sungai Buleleng. Dengan diiringi gamelan bleganjur, pihak keluarga memohon kepada Dewa Baruna atau penguasa laut agar diberikan petunjuk atas keberadaan Wardani dan Restini. Upacara dipimpin langsung oleh pemangku kawitan Tangks Kori Agung, Jro Mangku Ketut Rena didampingi Jro Istri Luh Sukanadi. Upacara berlangsung pukul 07.00 wita. Upacara ini dimaksudkan agar kedua korban dapat segera ditemukan.

Dalam upacara tersebut menggunakan banten pengulapan serta dilengkapi dengan dua ekor ayam hitam sebagai sarana pakelem. Ayam hitam tersebut disimbolkan sebaga sarana penukar roh yang hilang. Sehingga roh yang diinginkan dapat dikembalikan.

"Ini upacara ngulapin untuk korban. Langsung diupacarai mapag gong. Sarananya banten pengulapan. Ini ada pekelemnya ayam pecaruan dua ekor. Ayamnya ayam hitam. Karena sekarang Sukre wage jadi ayamnya pakai ayam hitam. Kalau maknanya, itu untuk menukar roh yang hilang. Agar dikembalikan ke pada kita, dan jasadnya bila dia sudah meninggal maka agar ditemukan. Begitu menurut kepercayaan Hindu. Setelah ini tinggal menunggu waktunya apakah nanti akan ditemukan atau tidak," kata Jro Mangku Rena.

Disinggung mengenai petunjuk niskala yang diterima, Jro Mangku mengaku tidak merasakan apa pun. Ia sepenuhnya berserah kepada Tuhan terkait jalannya karma. "Kalau saya pribadi tidak menerima firasat apapun. Tidak menerima petunjuk apa-apa juga. Saya hanya menghantarkan jalannya upacara saja. Kalau demikian, perlu meditasi yang benar-benar khusyuk. Kalau Tuhan berkehendak maka akan diberikan jalannya," tegasnya.

Sementara itu keluarga korban, Kadek Purna berharap pencarian terhadap cucu dan keponakannya itu diberi perpanjangan waktu. Ia pun mengaku akan melakukan pencarian terhadap korban bersama pihak keluarga lainnya, bila pencarian pada hari ketujuh tidak membuahkan hasil dan pencarian oleh tim ditutup.

"Rencana ke depan karena ini sudah hari ketujuh, kami berharap pencarian dari tim diperpanjang jika memungkinkan. Kalau dari tim hasilnya masih nihil dan menghentikan pencarian, kami dari pihak keluarga akan melanjutkan pencarian. Karena dari petunjuk orang pintar, kami diberi waktu hingga 9 Hari. Batas pencarian mulai hari ini. Saat kami lakukan penerawangan lewat paranormal diminta melakukan pencarian selama 11 Hari. Karena sesuai petunjuk cucu saya masih berada di sekitar sini. Dan mungkin akan kami temukan. Kami berharap tim juga dapat menemukan. Kalau dalam 11 Hari tidak juga ketemu, kami diminta untuk iklas dan merelakan," ungkapnya.

Total sudah tiga kali ritual mulang pakelem dilakukn oleh pihak keluarga. Yang pertama memohon pada pura Segara Buleleng dengan sarana pakelen seekor bebek. Kemudian yang kedua dilakukan di pantai kawasan Pelabuhan Tua Buleleng dengan sarana pakelem berupa ayam, dan terakhir dilakukan ritual mapekelem sekaligus mapag gong di muara Tukad Buleleng dengan sarana pakelem dua ekor ayam. Ritual mepiuning juga dilakukan di Tukad Kalibaru yang diduga menjadi lokasi awal kejadian hanyutnya dua warga yang tinggal di lingkungan Kayu Upas, Kelurahan Banyuning itu.

Upaya lainnya dengan melakukan menerawangan lewat paranornal atau balian. Ada sekitar 7 orang pintar yang turut membantu menerawang keberadaan kedua korban. Empat orang balian didatangi langsung pihak keluarga untuk mengetahui nasib Wardani dan Restini. Sedangkan tiga orang lainnya secara sukarela melakukan pencarian niskala. Hasil ramalan dari ketujuh paranormal itu pun sama.

"Semua hasil ramalannya sama, cucu saya ada di sekitar sini yang akan ditemukan lebih awal katanya. Dan ibunya sudah hanyut jauh dan ditemukan lebih lama. Dan karena dari kepercayaan Hindu, kami metuunang, katanya perjalanan mereka sudah sangat jauh. Tidak usah dicari di tempat ini. Selanjutnya silahkan lakukan prosesi sebagaimana kepercayaan umat Hindu," tuturnya.

Di sisi lain, tim gabungan yang bersiaga di Pelabuhan Tua buleleng tetap melakukan pencarian pada hari terakhir. Penyisiran kawasan laut masih dilakukan berharap dapat menemuka tanda-tanda keberadaan korban. Editor : I Putu Suyatra
#bali #MAPAG GONG #KORBAN HANYUT BULELENG #buleleng