Antusiasme ini mengingat Gubernur Bali sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) bernomor: B.19.430/287/Kes/DISBUD tentang Penegasan Pembuatan dan Pawai Ogoh Ogoh-Ogoh Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944, yang intinya mengapresiasi pembuatan ogoh-ogoh, namun dengan mencermati situasi Covid-19. SE itu juga menyikapi SE Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Nomor 009/SE/MDA-Prov Bali/XI1/2021 tentang Pembuatan dan Pawai Ogoh-Ogoh Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944.
Ditemui di Banjar tersebut, Koordinator Pembuatan Ogoh-Ogoh bernama Dika dan Dek Arta menjelaskan, pemuda Banjar Karang Suwung membuat hanya satu dengan ukuran jumbo, setinggi enam meter yang bertemakan Raja Bedahulu. "Sudah dua tahun kami tidak mengarak Ogoh-Ogoh, tahun ini kami ingin sekalian membuat yang besar, tradisi ini tidak boleh mati," tutur Arta, Minggu (23/1).
Prosesnya dimulai sejak Minggu (16/1). Para pemuda begitu semangat dari awal mengelas besi kerangka dan memotong atau mengolah bambu untuk digunakan menganyam badan Ogoh-Ogoh. Sebab, mereka menargetkan karyanya sudah rampung pada akhir Februari mendatang.
"Penggunaan bahan bambu untuk seluruh badan, kaki, tangan dan kepala tanpa styrofoam atau spons pun tujuannya agar ramah lingkungan," kata dia. Total dana yang direncanakan untuk Ogoh-Ogoh tersebut sekitar Rp 7 juta. Menariknya, STT Karang Mas Djati tidak mencari sumbangan ke masyarakat sekitar, tempat usaha, ataupun pemerintah, dengan pertimbangan masa pandemi Covid-19.
Mereka tidak ingin menyusahkan orang lain, sehingga mengeluarkan dana atau kas STT sendiri. Mereka makin percaya diri terhadap pengarakan Ogoh-Ogoh akan terlaksana tahun ini, lantaran sudah didukung melalui rapat Karang Taruna Pedungan dan rapat Desa. Terlebih, protokol kesehatan bersedia mereka terapkan.
"Kami dalam mengarak Ogoh-Ogoh nanti mulai dari Banjar, melewati Jalan Pulau Saelus, belok kiri ke Pulau Bungin, ke Pulau Belitung, lalu Pulau Singkep, baru belok kanan lagi kembali ke Banjar, tentunya dalan proses itu kami bersedia menerapkan prokes tapi tidak akan terlalu membatasi jumlah pengarak, karena Ogoh-Ogoh besar akan sulit diangkat," tambahnya. Namun apapun bisa terjadi dalam situasi Pandemi Covid-19.
Apalagi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sempat mengeluarkan statement agar pelaksanaan pengarakan Ogoh-Ogoh di malam Pangerupukan dipertimbangkan kembali. Pihaknya berharap, agar menjelang hari-H Pemangerupukan, tidak tiba-tiba ada pembatalan baik dari Pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Bali, atau yang lumrah diserukan sebagai 'prank'.
"Kami harap tidak kena prank, karena para pemuda di Bali pasti semangat melestarikan tradisi," pintanya kepada pemangku kebijakan. Lebih lanjut, STT Karang Mas Djati juga menggelar lomba membuat Ogoh-Ogoh mini dan menggambar Ogoh-Ogoh sebagai wadah kreativitas pada 26 Februari mendatang dengan hadiah total mencapai jutaan rupiah.
Pendaftarannya sudah dibuka sejak Minggu (2/1) dan akan ditutup sampai 24 Februari atau dua hari sebelum lomba. Peserta bisa mendaftar secara online melalui link di bio instagram @st.karangmasdjati ataupun secara offline dengan datang langsung ke Banjar Karang Suwung mulai pukul 15.00, hingga 19.00 Wita.
Biaya pendaftaran lomba Ogoh-Ogoh mini Rp 90 ribu, sementara menggambar Ogoh-Ogoh Rp 60 ribu. Kategori pembuatannya yakni ramah lingkungan, Ogoh-Ogoh bermesin dan tidak bermesin dengan syarat tingg hanya satu meter, tidak termasuk konstruksi panggungnya. Kemudian mengirin sinopsis yang jelas serta tidak menggunakan unsur politik, sara dan pornografi. Editor : I Komang Gede Doktrinaya