Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kawasan Ubud, Tegallalang, dan Payangan Disolek Pemerintah Pusat dengan Anggaran Rp 34,3 T

I Dewa Gede Rastana • Jumat, 11 Februari 2022 | 23:51 WIB
Kepala Bappeda dan Litbang Gianyar, I Gede Widarma Suharta. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
Kepala Bappeda dan Litbang Gianyar, I Gede Widarma Suharta. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
GIANYAR, BALI EXPRESS - Gianyar nampaknya belum puas setelah mendapatkan megaproyek berupa pembangunan Pasar Rakyat Gianyar, hingga Pasar Seni Sukawati. Sebab di tahun 2023 nanti, Gianyar kembali kecipratan megaproyek dari pemerintah pusat berupa penataan kawasan Ulapan (Ubud, Tegallalang, dan Payangan). Angkanya pun sungguh bombastis, mencapai Rp 34,3 Triliun.

Kepala Bappeda dan Litbang Gianyar, I Gede Widarma Suharta menjelaskan bahwa saat ini Pemkab Gianyar tengah mempersiapkan berbagai untuk mendukung pembangunan kawasan Ulapan. Dimana sebelumnya, telah dilakukan kajian oleh Bappenas, dan hasil kajiannya juga telah diserahkan kepad Presiden RI pada Desember 2021 lalu. "Penataan kawasan Ulapan ini dikaji oleh Bappenas," ujarnya Jumat (11/2).

Kata dia, kajian tersebut membantu Pemkab Gianyar untuk mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan dibangun dalam rangka rehabilitasi objek wisata pasca pandemi Covid-19. "Anggaranmya bersumber dari APBN, ditetapkan secara nasional sebesar Rp 34,3 Triliun. Dan pembangunan akan dimulai tahun 2023 sampai 2025," sambungnya.

Mengapa kawasan Ulapan diprioritaskan untuk ditata? Selain karena kawasan Ulapan ini masuk dalam KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional), kawasan Ubud juga dinilai mengalami dampak ekonomi paling parah akibat pandemi. Dan kunjungan wisatawan di Ubud sudah pada ambang batas. "Kalau tidak direvitalisasi maka kunjungan akan semakin menurun. Dan Ubud sudah mendekati titik jenuh, baik itu pembangunannya dan lalu lintasnya," imbuhnya.

Adapun infrastruktur yang nantinya akam dibangun diantaranya sejumlah central parkir dan kantong parkir untuk mengurangi kemacetan. Selanjutnya akan dibangun terminal-terminal bus, sebab akan ada bus listrik untuk menghubungkan kawasan Ulapan tersebut. "Yang jadi penyebab kemacetan di Ubud adalah karena kapasitas jalan tidak seimbang dengan jumlah kendaraan yang masuk. Yang kedua karena banyak pemilik mobil yang tidak memiliki garase sehingga parkir dibadan jalan. Ini kita carikan solusi dengan membangun central parkir itu ada central parkir lapangan Astina Ubud, central parkir Padang Tegal dan Pasar Ubud," jelas Suharta.

Kemudian untuk kantor parkir akan dibangun di Singakerta, Ambengan dan Padang Tegal. Sehingga bus wisatawan yang masuk ke Ubud dalam memarkirkan bus di kantor parkir, kemudian berkeliling kawasan Ulapan menggunakan bus listrik. Selain itu juga akan dibuat pedestrian. "Tapi di tahun 2023 yang pertama akan dibangun itu rencana central parkir Astina, kantong parkir, penggantian signed 3 bahasa di seluruh tempat di Ubud, kemudian pembangunan Tourism Information Center (TIC) rencananya di kantor lurah, tempatnya strategis bagus mengatur flow wisatawan, penataan teras ceking, serta sanitisasi dan IPAL," bebernya.

Dan atas rencana pembangunan kawasan Ulapan tersebut, maka pembangunan di kawasan Ubud akan dihentikan dan diarahkan ke Tegallalang atau Payangan. "Jadi akomodasi wisata yang sudah ada di Ubud itu dioptimalkan, pembangunan baru dihentikan dan diarahkan ke Tegallalang dan Payangan," tandasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#apbn #gianyar #Ditata #bus listrik #Kawasan ulapan