Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menengok Pengrajin Sarung Pisau di Sidan, Pesanan Menurun Saat Pandemi

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 22 Maret 2022 | 13:13 WIB
PENGRAJIN : Pande Nyoman Artono saat membuat sarung pisau di Banjar Pande, Desa Sidan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar. (ISTIMEWA)
PENGRAJIN : Pande Nyoman Artono saat membuat sarung pisau di Banjar Pande, Desa Sidan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar. (ISTIMEWA)
GIANYAR, BALI EXPRESS – Pisau, blakas, golok, hingga pengutik biasanya dilengkapi dengan sarungnya untuk memudahkan ketika dibawa dan tidak melukai pemiliknya. Salah seorang pengrajin sarung pisau adalah Pande Nyoman Artono di Banjar Pande, Desa Sidan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar.

 

Pande Nyoman Artono sendiri sudah membuat sarung pisau sejak tahun 2004 lalu dibantu oleh istrinya, Pande Ketut Suaniti. Namun sebelum itu, dirinya merupakan pengepul bahan bilah pisau ke berbagai pande di Gianyar dan Bangli. “Sebelumnya saya pengepul bahan bilah pisau ke sejumlah pande besi di Gianyar dan Bangli,” ungkapnya Senin (21/3).

 

Ditambahkannya jika besi bahan bilah pisau itu ia beli dari pengepul rongsokan di Denpasar. Dimana ketika itu di Denpasar hanya ada tiga pengepul tempat rongsokan. “Tapi lama kelamaan pengepul rongsokan semakin banyak dan pande besi mengambil sendiri bahan bilah ke rongsokan, dan sekarang pedagang rongsokan membawa bilah ke pande besi. Sehingga usaha jualan bilah ke pande besi berhenti. Kalau dulu, rumah saya penuh dengan besi bahan dan arang," paparnya.

 

Kondisi itu pun membuat dirinya mencoba peruntungan dengan membuat kerajinan sarung pisau atau golok. Awalnya Artono hanya belajar secara otodidak, namun lama kelamaan dirinya ahli membuat sarung pisau. “Saya tidak punya guru, hanya belajat otodidak. Awal-awalnya dalam sehari tidak selesai satupun, tapi saya terus mencoba, sampai bisa,” sambungnya.

 

Setelah bisa membuat sarung pisau dengan model sederhana, kini Artono sudah bisa membuat sarung pisau bervariasi dan dilapisi beludru. Sarung pisau itu sendiri ia buat dengan kulit sapi. Dimana kulit sapi tersebut ia beli di Denpasar dengan harga Rp 130 ribu per kilogram. “Kalau tahun 2004-an dulu, harga kulit perkilonya Rp 48 ribu. Tapi seiring berjalannya waktu harganya terus naik, apalagi saat ini jumlah potong sapi menurun, sehingga harga menjadi mahal, juga karena dipakai industri sepatu dan tas kulit," tukasnya.

 

Satu lembar kulit sapi, kata dia bisa menghasilkan 35 sarung komplit yang dikerjakan dalam dua hari saja. Namun kini pesanan yang masuk turun drastis, tidak seperti sebelum pandemi Covid-19 dimana dirinya sampai kewalahan melayani pesanan. Pesanan datang dari seluruh Bali bahkan ia pernah melayani pesanan dari England.

 

Harga sarung pisau yang ia jual dibanderol mulai dari Rp 40 ribu sampai Rp 100 ribu tergantung model dan motif. Semakin besar dan semakin rumit model dan motif, maka harganya bisa sampai Rp 250 ribu. Keterbatasan waktu pun membuat dirinya tidak sempat melakukan promosi di media sosial, sehingga dirinya hanya mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut.

 

Sayangnya usaha karya warga lokal Gianyar ini belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Jika memang ada, tentu kami berharap bisa mendapatkan bantuan modal untuk peningkatan usaha,” tandasnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#sarung pisau gianyar #pandemi #jual sarung pisau #gianyar #penjualan menurun #pengrajin sarung pisau