Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Restoran The Cave Dibangun Dalam Gua, Bendesa Adat Pecatu Ngaku Tak Tahu

I Dewa Gede Rastana • Sabtu, 16 Juli 2022 | 04:17 WIB
DIPERIKSA: Petugas gabungan saat melakukan pemeriksaan lokasi restoran The Cave, Jalan Goa Lempeh, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kamis (14/7). (DOK. BALI EXPRESS)
DIPERIKSA: Petugas gabungan saat melakukan pemeriksaan lokasi restoran The Cave, Jalan Goa Lempeh, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kamis (14/7). (DOK. BALI EXPRESS)
MANGUPURA, BALI EXPRESS – Sebuah restoran dalam gua di Jalan Goa Lempeh, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, ternyata tidak diketahui keberadaanya oleh bendesa adat setempat. Bahkan restoran The Cave yang berada di bawah hotel The Edge ini tidak diketahui status perizinannya.

Bendesa Adat Pecatu I Made Sumerta mengatakan, dirinya tidak mengetahui pasti keberadaan restoran yang dibangun di dalam gua tersebut. Bahkan sejak menjabat tahun 2016 tidak pernah menerima penyampaian terkait pembangunan yang berada di daerahnya. “Saya tidak tidak tahu terkait itu, apakah dia mengurus izin atau tidak saya tidak tahu juga. Seingat saya tidak pernah menerima penyampaian bahwa ada pembangunan baik dari krama atau yang lain,” ujar Sumerta saat dikonfirmasi Jumat (15/7).

Kendati demikian pihaknya menyebutkan bahwa di Desa Pecatu memang terdapat beberapa gua. Namun khusus gua yang dibangun sebagai restoran ia tidak mengetahui. “Di Pecatu memang ada gua, seperti gus Pura Selonding, gua Batu Metandal, dan masih banyak yang lain. Semua gua itu memiliki jalan sejarahnya,” ungkapnya.

Terkait perizinan, Sumerta berharap, agar telah dimiliki. Lantaran pengurusan izin, menurutnya bukan berada di ranah desa adat. “Saya bukan tim teknis terkait perizinan, IMB silahkan disesuaikan dengan ketentuan,” terang Anggota Komisi IV DPRD Badung tersebut.

Sementara Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menjelaskan, akan turun ke lapangan untuk mengetahui secara langsung terkait adanya restoran tersebut. Namun ia memastikan jika gua tersebut memang tidak dipergunakan untuk kegiatan keagamaan maka dapat dimanfaatkan sebagai restoran. Asalkan dapat meningkatkan kesejahteraan bersama.

Informasi terkait hal seperti ini saya harus cross check dulu kelapangan, kita akan lihat. Apakah sejarahnya hanya untuk berteduh, apakah dengan istilah dulu nyingkir, atau bersembunyi, Kalau itu dimanfaatkan dari sisi benefit tanpa mengurangi dari pada kesakralan terutama umat sedarma di wilayah kita yaitu Hindu, saya rasa tidak bermasalah,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, terdapat beberapa video mempromosikan sebuah restoran yang berada di dalam goa beredar di media sosial. Dalam video tersebut menyebutkan  restoran The Cave berada di bawah hotel The Edge di Jalan Goa Lempeh, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan. Petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Badung, petugas Keamanan dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Kuta Selatan langsung turun melakukan pengecekan, Kamis (14/7) siang.

Berdasarkan video di akun twitter, terdapat seorang wanita yang mengaku sedang berada di restoran The Cave. Dari narasi sang wanita itu, di restoran tersebut, terdapat setidaknya 7 kali penampilan live show. Pada akhir video itu, terdapat pula list harga yakni Rp 1,5 juta lebih per orang dengan rincian sudah mendapatkan 7 menu makanan. Selain itu, terdapat juga harga Cocktail Rp 200-300 ribu.

Sementara video di media tiktok juga mempromosikan restoran The Cave. Salah satu videonya menjelaskan eksplorasi goa yang dijadikan restoran dilakukan sejak tahun 2013. Restoran tersebut memiliki 22 seat yang tersedia. Editor : I Dewa Gede Rastana
#usaha bodong #dibangun dalam gua #ngaku tidak tahu #restoran the cave #Bendesa Adat Pecatu #tidak berizin #jalan goa lempeh