I Gede Dana menyebut, untuk proses sebelum diserahkannya pengelolaan itu kepada Perumda Tirta Tohlangkir diakuinya cukup lama. Namun dengan keseriusan Pemkab Karangasem dalam menangani ini, menjadikan air Telaga Waja bisa dinikmati oleh masyarakat. "Ini keseriusan kami untuk menyelesaikan air Telaga Waja, prosesnya cukup lama,terutama dengan Provinsi karena masih dimiliki balai," ujarnya.
Gede Dana menambahkan, dirinya tidak ingin air Telaga Waja hidup disaat ada kepentingan saja, untuk itu pihaknya menginginkan masyarakat ikut serta dalam melakukan pengawasan. Terlebih pihaknya menginginkan air Telaga Waja bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Karangasem. "Untuk sementara baru bisa di tiga desa, keinginan kami air Telaga Waja bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Karangasem, namun tentu saja dilakukan secara perlahan," lanjutnya.
Terlepas dari itu, Bupati menyebut, penyerahan pengelolaan SPAM air Telaga Waja merupakan hadiah terindah menjelang HUT Republik Indonesia ke-77 kepada masyarakat Karangasem, terutama masyarakat Kecamatan Kubu. Terlebih debit air yang cukup besar sehingga harus bisa dinikmati oleh masyarakat.
Sedangkan Kepala UPTD PAM Bali, I Ketut Ariantana mengatakan, untuk bisa dinikmati, air Telaga Waja masih membutuhkan proses. Sejatinya, menurut Arianta debit air Telaga Waja cukup besar, namun ada dibawah, sehingga harus dinaikkan terlebih dahulu, yang membutuhkan biaya operasional cukup besar. Disamping itu, walaupun jaringan air sudah dibangun, belum tentu juga air bisa dialirkan. "Jaringan dibangun kan saat air belum dialirkan, belum siap di tes sehingga kemarin dengan Airnya sudah sampai di reservoar induk yang di Kubu itu membuktikan air sudah sampai di sana, dari sana baru mulai kita distribusikan. Mudah-mudahan tidak ada masalah, nanti di pipa-pipa distribusinya akan dites lagi baru masuk ke masyarakat rumah-rumah masyarakat," ujarnya. (dir) Editor : I Dewa Gede Rastana