Sawah yang ditanami cabai lombok tersebut kini dipenuhi pasir, tanah, dan bebatuan. Tak ayal, kondisinya kini sudah layu.
Turun menuturkan, kali ini ia dipastikan merugi. Cabai yang ditanam sebelumnya, saat ini tidak bisa dipanen dengan maksimal. “Kalau dibilang rugi, ya pasti. Biaya perawatan yang mahal,” terangnya belum lama ini.
Padahal, cabai tersebut sudah sempat dipanen, namun belum sepenuhnya. Ia menuturkan, seharusnya cabai tersebut masih bisa dipanen beberapa kali. Cabainya pun masih terlihat bervariasi. Ada yang sudah siap panen, dan ada juga masih muda. Di samping itu, dalam waktu dekat ini, pihaknya belum bisa menanami kembali sawah tersebut.
Atas kondisi itu, ia berharap mendapat bantuan perbaikan menggunakan alat berat untuk menghilangkan material yang menutupi sawah tersebut. “Semoga ada bantuan alat berat untuk bisa memperbaiki ini,” harapnya.
Ia menuturkan, pada tahun 1963 silam, sawah tersebut juga pernah mengalami kejadian serupa. Saat itu, ia mempekerjakan beberapa orang untuk membersihkan tempat tersebut. “Dahulu tenaga manual, ongkosnya lumayan mahal. Bayarnya dengan beras, kalau dahulu sekitar 4 ton,” sambungnya.
Ia berharapan kalinini bisa dibantu alat berat supaya sawah tersebut bisa diolah kembali. “Kalau sekarang tenaga manual pasti sudah tidak bisa,” tegasnya. (dir)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya