Kegiatan yang digelar, Selasa (2/11) pukul 18.00, di balai Banjar Taman Yangbatu, Jalan Kapten Japa Denpasar tersebut, dihadiri sejumlah pembina seni Disbud Denpasar, Bendesa Adat Pagan Dr. Wayan Subawa, SH, MH, Perbekel Desa Sumerta Kauh I Wayan Sentana, SH, para kelian banjar di Desa Adat Pagan, tokoh masyarakat dan para seniman di lingkungan Desa Adat Pagan.
Dalam sambutannya, Bendesa Adat Pagan Wayan Subawa mengapresiasi keikutsertaan Paiketan Yowana Desa Adat Pagan dalam parade baleganjur yang digelar Pemkot Denpasar. Terlebih melihat antusiasme para yowana yang tak kenal lelah melaksanakan latihan, serta didukung rasa kersamaan dan persaduaraan.
“Inilah yang membuat kami di desa adat merasa terharu dan bangga, karena di wilayah perkotaan, tentu hal ini sulit dilakukan,” ucapnya seraya mengaku, juara tidak menjadi target. Sebab, bergabungnya para yowana membentuk sebuah paiketan, sudah merupakan kemenangan baginya. “Kalau toh nanti mendapat juara, astungkara,” selorohnya.
Mantan Sekda Badung ini berharap, paiketan yowana ini tidak hanya serangkaian parade, tetapi terus berkelanjutan untuk bersama-sama ngayah dan mengabdi untuk Desa Adat Pagan. “Sebab, sepuluh tahun ke depan, para yowana ini yang menentukan nasib desa ini. Kalau mau dibawa ke hal yang baik maka desa akan menjadi baik. Sebaliknya jika dibawa ke hal buruk, maka desa adat akan hancur,” ujarnya.
Terhadap para pembina seni dari Disbud Denpasar, Subawa berharap memberi masukan, saran-saran dan kritik kepada sekaa baleganjur sebagai bahan evaluasi bagi komposer, pelatih, penabuh, dan peñata.
Mewakili tim Disbud Denpasar, Dr. Komang Astita, SST, MA mengatakan, dari sisi tema dan judul, garapan tim baleganjur Desa Adat Pagan dengan judul "Mamogol" sudah bagus. Kemudian dari struktur atau komposisi tabuh, juga sudah sesuai dengan kententuan dalam parade. Namun hal tersebut juga harus didukung performa, kekompakan, aksen serta penekanan yang lebih tegas. “Gendingnya sudah bagus, tetapi perlu diberi tenaga. Saya lihat para penabuh belum maksimal. Mungkin masih ‘ngapalin’ gending,” selorohnya.
Sementara itu, seniman Nyoman Suarsa yang lebih akrab dipanggil Yang Pung menambahkan, potensi seni di Desa Adat Pagan sangat potensial. Untuk itu dia meminta tidak hanya terhenti sampai di baleganjur, tetapi dilanjutkan ke gong kebyar. “Saya lihat para penabuhnya muda-muda. Saya harap bisa mewakili gong kebyar Kota Denpasar di PKB,” tandasnya. Editor : Nyoman Suarna