"Salah satunya dengan penerapan pengolahan sampah di hulu. Kami mendapatkan bantuan dari Kanada untuk pengolahan sampah organik dengan metode teba modern," jelasnya, Selasa (1/11).
Adapun konsep pengolahan sampah teba modern, sama halnya dengan konsep pengolahan sampah organik berupa sumur komposter, yang dibuat sesuai dengan kebutuhan tiap keluarga.
Sumur komposter berbentuk bulat dengan diameter sekitar 80 centimeter atau ukuran buis beton. Komposter ini ada yang tertanam merata dengan tanah. Ada juga di atas permukaan tanah (menjulang) yang lubangnya ada di bagian bawah. Biasanya, warga yang membuat sumur komposter model menjulang ini dijadikan sebagai meja seperti taman. "Ada juga yang berbentuk kotak dan tertanam di dalam tanah," lanjutnya.
Kedalaman sumur komposter bisa mencapai 200 cm, dan bagian atasnya diletakkan buis beton, lalu di bawahnya tetap tanah untuk memudahkan ekosistem pengurai organik ini hidup dan bekerja menghancurkan material organik, seperti daun hingga sisa limbah dapur.
"Nanti semua sampah organik dibuang ke dalam sumur komposter ini. Sampah organik yang dibuang ke sumur komposter ini nantinya bisa dijadikan pupuk. Jika satu rumah tangga saja membuat ini, maka volume sampah yang dibuang ke TPA Mandung akan jauh berkurang," terang Urip.
Untuk saat ini, lokasi penerapan teba modern ini akan dilakukan di Desa Dajan Peken. Akan ada 37 titik teba modern yang akan dibuat sebagai contoh, dan harapannya akan menularkan ke desa maupun warga lain.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya