Menurut informasi yang didapat, limbah bulu ayam mencapai 250 kg setiap harinya. Itu berasal dari para pelaku usaha pengolahan ayam di desa setempat. Limbah tersebut belakangan ini dibuang begitu saja di Pangkung (sungai mati) Klamba yang berada di dekat TOSS.
Aroma yang tidak sedap itu pun terkadang sampai tercium ke SDN 3 Banjarangkan, yang mana lokasi TOSS dengan SD tersebut bersebelahan. Kondisi itu pun sempat mengganggu aktivitas belajar mengajar di SD tersebut.
Kepala SDN 3 Banjarangkan Ni Wayan Srinati mengungkapkan, siswanya pernah tidak kuat mencium aroma tidak sedap yang berasal dari bau limbah ayam tersebut. Apalagi ketika musim hujan yang membuat bau tersebut menyengat sampai ke sekolah itu. “Saya sudah sempat koordinasi dengan pihak desa, semenjak itu bau sampah sudah agak mendingan. Tapi, ketika musim hujan, bau sampah masih tercium sampai sekolah,” ujarnya, Senin (14/11).
Dari pantauan di lapangan, sampah yang diangkut dengan menggunakan truk, semuanya dibuang ke Pangkung Klamba. Tidak ada proses pemilahan disana. Sampah organik maupun non organik tercmpur disana.
Sementara itu, Perbekel Desa Banjarangkan, A.A Gede Indrawan Diputra dikonfirmasi Senin (14/11) tak menampik jika limbah bulu ayam menjadi penyebab adanya bau menyengat itu. Kata dia, sebelumnya limbah bulu ayam itu dikeringkan disana, karena ada pihak yang akan mengambil. Namun, ketika musim hujan tiba, limbah tersebut menimbulkan aroma yang tidak sedap.
Untuk saat ini, limbah tersebut dibuang langsung ke Pangkung Klamba tersebut. Tidak ada pengeringan limbah bulu ayam lagi disana. “Karena dibuang, proses pembusukannya kan cepat. Dulu dikeringkan tapi tidak di proses,” jelas Perbekel Banjarangkan.
Kendati diketahui limbah bulu ayam tersebut akan terus ada, pihaknya terus berupaya untuk mengatasi persoalan itu. Saat ini, Desa Banjarangkan menggandeng mahasiswa Universitas Udayana yang melaksanakan KKN disana untuk melakukan penelitian. “Sekarang lagi eksperimen. Bulu ayam, limbah itu ditutup dalam sebuah tabung, dicampur cairan, selama satu minggu dia akan menjadi pupuk. Semoga berhasil,” harapnya.
Terkait dengan tidak adanya pengolahan sampah, pihaknya mengaku, mesin yang biasanya digunakan untuk pencacah sampah saat ini sedang berada di bengkel. Mesin itu dibuat lebih efisien. “Dari yang sebelumnya masih manual, sekarang akan diperbarui dengan menggunakan system listrik,” tandasnya. (dir)
Editor : I Dewa Gede Rastana