Webinar ini diikuti oleh ratusan peserta. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Seperti guru Bahasa Bali, penyuluh Bahasa Bali, dosen, mahasiswa, siswa, serta masyarakat umum. Acara dibuka oleh Ketua MKPS Kabupaten Buleleng Disdikpora Provinsi Bali Putu Arimbawa.
Ada dua narasumber yang dilibatkan, yakni Ketut Paramarta, selaku Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Bali FBS Undiksha dan Putu Pertama Yasa, selaku Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng.
Ketua MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng I Kadek Mustika mengatakan, pihaknya bersama para guru Bahasa Bali terus berkomitmen dalam mendukung implementasi Pergub Bali No. 80 Tahun 2018.
MGMP sebut Mustika sudah empat kali menjalankan webinar serupa. Tujuannya untuk mencarikan berbagai solusi dari permasalahan dalam Bahasa Bali. Terlebih Bahasa sangat dinamis dan terus mengalami perkembangan.
Aksara Bali bahkan sudah bisa digunakan dalam Komputer atau PC dan android serta terus mengalami perkembangan. Banyak pengembang aplikasi yang membuat aplikasi aksara Bali sehingga memperluas akses penggunaan aksara Bali.
“Webinar ini kami laksanakan dalam rangka untuk berbagi informasi kepada masyarakat luas berkaitan dengan perkembangan dan penggunaan aksara Bali di era digital, sehingga nanti penggunaannya semakin memasyarakat, khususnya lagi di kalangan siswa”, ujarnya.
Sementara itu, Ketua MKPS Kabupaten Buleleng Disdikpora Provinsi Bali Putu Arimbawa, mengapresiasi upaya yang terus digalakkan MGMP Bahasa Bali Buleleng dalam melestarikan Bahasa Bali.
Pihaknya berharap MGMP terus melakukan penyelarasan dengan kebijakan Pemprov Bali, karena pelajaran Bahasa Bali termasuk dalam Muatan Lokal. Dalam hal penggunaan Bahasa Bali sesuai ketentuan pergub, pihaknya mengajak guru Bahasa Bali dan lembaga pendidikan untuk menjadi pionir dan contoh, sehingga pelaksanaanya sesuai dengan yang diharapkan.
“MGMP harus terus melakukan inovasi, baik menyangkut pendidikan maupun konten Bahasa aksara dan sastra Bali, sehingga mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas di masing-masing sekolah”, paparnya.
Di sisi lain, I Ketut Paramarta, dalam pemaparannya tentang Digitalisasi Aksara Bali menyebutkan Penggunaan aksara Bali bisa dilakukan secara offline dengan font Bali Simbar Standar Unicode atau variasi font yang lain.
Aplikasi yang digunakan selama ini seperti Bali Simbar B dan Bali Simbar Dwijendra. Selain secara offline juga bisa dilakukan secara online, yaitu dengan menggunakan basis font Noto (Sans Serif) atau Ubud font (IOS).
“Kami mengajak generasi muda untuk mau menggunakan aksara Bali di komputer karena manfaat dari teknologi itu bisa dirasakan ketika kita menggunakan,” ungkapnya.
Sedangkan Putu Pertama Yasa, menjelaskan Aksara Bali di Smartphone menggunakan font Noto Sans (Unicode) yang dikeluarkan oleh google. Seiring perkembangan akhirnya aksara Bali bisa digunakan dalam smartphone.
Ada beberapa bentuk perkembangan aksara Bali pada smartphone, seperti keyboard, transliterasi, game, dan kamus. Dengan keberadaan keyboard aksara Bali seperti multiling o keyboard dan PaTik Bali akhirnya kita bisa menggunakan aksara Bali di media sosial seperti facebook, Instagram, Whatsapp, dan lain-lain.
Selain pengetikan secara langsung, kita juga bisa memanfaatkan aplikasi transliterasi atau alih aksara melalui aplikasi yang ada seperti Aksara Bali dan Nulis Aksara Bali. Ada juga yang berupa game seperti Aksara Bali, Kuis Aksara Bali, dan Puzzle Belajar Aksara Bali.
Demikian juga dengan kamus yang terus berkembang, salah satunya seperti Kamus Indonesia-Bali. Aksara Bali juga bisa digunakan dalam pembuatan desain seperti edit foto, pembuatan poster, atau edit video. “Agar terus berkembang, tentu perlu peran khususnya generasi muda mau menggunakan aksara Bali di smartphone,” singkatnya.