Dalam saresehan tersebut, dihadirkan dua pemateri yakni, pemateri pertama Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung merupakan penglingsiri Puri Agung Gianyar yang juga merupakan putra sang pahlawan nasional secara virtual dan pemateri kedua Anak Agung Gede Mayun, yang merupakan Ketua Pasemetonan Manggis Kuning.
Dimana dari penyampaian materi terungkap, Dr. Mr. Ide Anak Agung Gede Agung merupakan pejuang patriotik yang berjuang melalui jalur diplomasi. Hanya saja memang, selama ini banyak yang salah kaprah, dan menganggap sang pahlawan cenderung pro Belanda. Padahal apa yang dilakukan merupakan jalur diplomasi yang juga sangat merugikan Belanda. Tidak ada bedanya dengan perjuangan fisik.
“Sedangkan saat ini masyarakat condongnya hanya melihat perjuangan fisik, padahal antara fisik dan diplomasi sama pentingnya,” ungkap Prof. Dr. Anak Agung Gde Agung didampingi Anak Agung Gede Mayun.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, perjuangan diplomasi yang dilakukan Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung sama seperti perjuangan Ir. Soekarno, dan Sutan Sjahrir. Sebab Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung dipercaya oleh tokoh-tokoh nasional untuk membantu dalam diplomasi. Dengan Jabatannya sebagai Perdana Mentri negara Indonesia Timur (NIT) kala itu, langkah-langkah beliau dipercaya untuk mendekati pihak Belanda terutama Van Mook ( Hubertus Johannes van Mook) Gubernur Jendral Hindia Belanda terakhir setelah Jepang menduduki Indonesia.
Van Mook yang ditugaskan langsung oleh Ratu Belanda untuk memimpin Hindia Belanda, memiliki peran sentral yang penting. Sampai akhirnya diplomasi yang dilakukan Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung membuat ia dipercaya untuk melakukan langkah-langkah yang mungkin menguntungkan pihak Belanda. Hanya saja Van Mook ini tidak tahu jika Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung memiliki visi yang sama dengan Ir. Soekarno, Hatta, dan kawan-kawan.
Melalui kepercayaan itu lah, Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung membentuk BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg) perkumpulan negara ciptaan Belanda. Karena Belanda menciptakan negara federal, maka Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung ingin bisa sering bertemu dengan pemimpin negara federal, maka dibentuklah BFO, hingga terselenggaranya konferensi antar Indonesia.
Munculnya Konferensi Antar Indonesia ini diluar skenario Van Mook ternyata membuat Van Mook merasa dilampaui. Ketika dilakukan Konferensi antar Indonesia di Bandung, barulah Van Mook sadar, bahwa Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung ini satu visi dengan Ir. Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Sultan Hamangkubowono IX dan kawan-kawannya. “Makanya menurut informasi dari Kraton Jogja Sri Sultan sangat menaruh kepercayaan kepada Anak Agung Gde Agung,” imbuhnya.
Dengan begitu ratu Belanda menjadi tidak percaya dengan Van Mook, karena sudah dilampaui oleh tokoh-tokoh nasioanal, sehingga Van Mook akhirnya dipecat. Semenjak itulah Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung bersama kawan-kawan membentuk panitia untuk melaksanakan Konferensi Meja Bundar (KMB), karena semenjak 1945 kedaulatan belum diterima, sehingga melalui KMB kedaulatan baru diterima, tahun 1949, diserahkan oleh ratu Belanda. “Ini diplomasi, kita tidak mengecilkan perjuangan fisik, kita sama-sama memaknai pendahulu kita dalam berjuang baik fisik mau pun diplomasi,” terangnya.
Ditambahkannya jika kesalah kaprahan selama ini dimana Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung dikatakan condong ke Belanda, karena informasi diplomasi ini belum sampai sepenuhnya.
Kendatipun demikian, beliau dianugerahi sejumlah penghargaan, pengakuan perjuangan beliau pertama, dianugrahi Presiden Soeharto tahun 1995 Bintang Maha Putra Adi Pradana. Karena verifikasi tahun 80 dibuka dari dokumen Belanda memang menyatakan semua itu. Bahwa perannya luar biasa. Dari nota dari catatan notulen rapat semua itu bahwa Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung menjelang akhir tahun 1948 sampai bisa melepaskan Ir. Soekarno dan kawan saat agresi meliter Belanda, dimana para tokoh menjadi tahanan. “Menjadi pertanyaan sejarahwan Belanda, tokoh-tokohnya di tahan kok perjuangan masih bisa berjalan, ternyata pahlawan nasional inilah yang menjalankan di balik itu. Sampai akhirnya diangkat sebagai Pahlawan Nasional zaman presiden SBY," tegasnya.
Namanya juga digunakan untuk nama jalan di wilayah Mega Kuningan Jakarta, tempat berkantor 20 kansulat jendral dari negara sahabat.
Sedangkan hingga saat ini spirit yang perlu teladani dari beliau adalah ia selalu mengajurkan untuk memajukan pendidikan. Karena melaluibpendidikan manusia memiliki nalar. Budaya Puri Agung Gianyar selalu memajukan pendidikan, sampai putri zaman kerajaan, yang dulu tidak boleh keluar puri, raja menyekolahkan sampai ke Amerika, yakni Anak Agung Istri Muter, sampai mendapat gelar Phd.
Sementara untuk menghormati perjuangan beliau, dan agar selalu memberi inspirasi kepada masyarakat, Pasemeton Manggis Kuning yang terbentuk April 2022, akan mencoba konsolidasi dengan pihak pemerintah agar nama beliau dapat diabadikan sebagai nama jalan dan pendirian monument di Bali atau di Gianyar secara khusus.
Ditambahkan oleh Ketua Panitia Kegiatan, Anak Agung Laksamana, sarasehan tersebut merupakan rangkaian untuk menyambut hari pahlawan. "Kita lakukan Tirta Yatra di Petilasan Ida Bhatara Manggis Kuning, lomba foto, dan sarasehan mengenang pahlawan nasional serta mengenal pura bagian timur kota Gianyar yaitu Pura Indrakila," sebutnya.
Melalui sarasehan tersebut diharapkan anak muda dapat mendengar cerita sejarah perjuangan pahlawan nasional asli Gianyar yang ternyata belum banyak diketahui. (ras)