Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni, UPTD. Taman Budaya, Provinsi Bali, I Wayan Widastra, menyampaikan kegiatan pelatihan di sanggar tersebut sudah mulai sejak tahun 2013 lalu.
"Kegiatan pelatihan ini mulai tahun 2013 diawali, dengan belajar bersama maestro dan beberapa pegawai Taman Budaya yaitu ada tari, tabuh, lukis dan nyastra. Karena dapat respon positif dari masyarakat sehingga peserta semakin bertambah," jelasnya.
Widastra mengatakan, sejak tahun 2014 diadakan pelatihan rutin setiap hari Minggu dengan sumber dana APBD. Sehingga Jumat kemarin digelarnya evaluasi dan kenaikan tingkat kepada para peserta sanggar yang sudah ditentukan kriterianya.
"Sehingga hari ini kami mengadakan evaluasi atau kenaikan tingkat dengan materi hanya tari, tabuh, lukis dan nyastra. Dengan jumlah peserta yang dievaluasi hanya 331 orang," beber pria asli Tamanbali, Kabupaten Bangli ini.
Dia menambahkan peserta latihan di sanggar yang ada di Taman Budaya Provinsi Bali yang hadir setiap hari Minggu rata-rata 350 orang. Mereka dilatih oleh 12 orang yang telah berkompetensi di bidangnya masing-masing. Bahkan sejak tahun 2020 juga sempat ada penambahan materi pelatihan, berupa pelatihan gender.
Disebutkan peserta yang ikut sanggar tersebut dari tingkat sekolah dasar dan tingkat sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas. Selain untuk mengasah kemampuan di bidang seni, tujuannya juga untuk menjaga tradisi dan budaya Bali itu sendiri.
Widastra mengaku evaluasi dan kenaikan tingkat ini sebagai salah satu cara meramaikan Taman Budaya, termasuk memanfaatkan fasilitas yang ada. "Ini sebagai langkah kami meramaikan Taman Budaya dan memanfaatkan fasilitas yang ada berupa gamelan maupun panggung-panggung agar difungsikan maksimal," tegasnya.
Ditambahkannya, bahwa langkah ini juga untuk mencari bibit-bibit seniman sejak dini, supaya dari dasar sudah mengenal seni. Termasuk di dalamnya agar anak-anak zaman sekarang lebih banyak bermain dengan handphonenya bisa diimbangi pada pengembangan bakat mereka di bidang seni.
"Belajar berbaur, mengenal teman yang lebih banyak. Kalau bisa dikatakan mereka ke Taman Budaya belajar sambil refreshing setiap minggunya," papar dia.
Para peserta atau anggota sanggar itu pun hanya latihan setiap Minggu pukul 8 pagi sampai pukul 11 siang. "Siapa boleh ikut, siapa yang mau dipersilahkan gratis. Hanya saja kami bayar pelatihnya, itupun dari anggaran UPTD. Taman Budaya," tandas Widastra.
Sanggar tersebut konsepnya hanya ngayah dan sebagai dasar supaya nantinya bisa digunakan di masyarakat. "Sebagai dasar ini, nanti supaya bisa dikembangkan di masing-masing desanya. Untuk pentas budaya kamu juga sudah ada rencana untuk ngayah di beberapa pura," tutupnya. Editor : I Dewa Gede Rastana