Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Produktivitas Kopi Wanagiri Menurun 70 Persen

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 11 April 2023 | 04:07 WIB
MENURUN : Made Darsana sedang mengeringkan biji kopi pada green house yang dimiliki oleh Bumdes Eka Giri desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
MENURUN : Made Darsana sedang mengeringkan biji kopi pada green house yang dimiliki oleh Bumdes Eka Giri desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
SINGARAJA, BALI EXPRESS – Salah satu desa penghasil kopi di Buleleng adalah Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Di daerah ini, terdapat kopi jenis arabika. Kualitas kopi arabika di desa ini sangat tinggi. Boleh dikatakan kopi di wilayah ini memiliki kualitas premium. Akan tetapi, kini produktivitas kopi di desa Wanagiri menurun 70 persen.

Ketua Bumdes Eka Giri, Made Darsana mengatakan, penurunan produktivitas kopi di desa Wanagiri disebabkan oleh faktor cuaca, iklim serta usia tanaman kopi. Darsana mengklaim penurunan produktivitas telah terjadi sejak tahun 2020 lalu. Bahkan hingga mempengaruhi hasil panen. Kini per tahun petani kopi jarang yang menghasilkan 100 ton biji kopi. “Penurunan di tahun 2023 paling parah. Dulu tahun 2015-2016 hingga 2018 maksimal 700 ton ceri per tahun. Tapi sekarang mencari 100 ton per tahun pun sangat susah. Rata-rata usia pohon kopi disini diatas 15 tahun ke atas. Disamping itu, karena regenerasi petani sangat minim. Mereka tidak bisa melihat peluang. Jadi perlu ada inovasi dari petaninya juga untuk menambah penghasilan,” terang Darsana, Senin (10/4) siang.

Penurunan produksi kopi tentunya mempengaruhi kepastian pasar. Saat ini Bumdes Eka Giri yang digawangi Made Darsana ini mencoba menjembatani petani agar mendapat kepastian harga pasar. “Kami hadir untuk itu. Bagaimana caranya hasil yang dipetik oleh petani dapat dijual dengan mudah, karena di situasi saat ini harga pasar juga kurang pasti,” ungkapnya.

Melalui pemberdayaan dan edukasi terhadap petani, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi, peningkatan modal serta harga pasar. “Di Wanagiri itu dalam hal pengolahan masih kurang. Karena ketika petani panen dan hasilnya laku terjual, ya cukup sampai disana saja. Mereka inginnya simple. Masalah lainnya adalah pengeringan. Sampai saat ini masih belum bisa terurai. Ini permasalahan sudah dari dulu, turun temurun, karena kondisi wilayah kami yang lembab,” kata dia.

Di desa Wanagiri sendiri terdapat dua wilayah perkebunan. Ada yang dikembangkan di lahan pribadi, ada pula di lahan hutan desa. Tentu keduanya telah mengantongi ijin. Yang dalam kawasan perkebunan sudah bersertifikasi organik dan sudah punya pasar sendiri. Tapi hanya mentok pada budaya petik, panen dan budidaya. “Tidak ada aktivitas lanjutan lagi. Aktivitas lanjutannya ada di Bumdes, makanya kami ingin setiap proses kopi itu punya nilai tambahnya,” kata Darsana.

Kemudian yang dalam kawasan hutan juga sudah mengantongi ijin dari Kementrian Kehutanan RI. Luasnya sekitar 250 ha saat ini. Itu masuk hutan desa. Dari luasan itu sekitar 50 ha – 70 ha ditanami kopi. Editor : I Dewa Gede Rastana
#menurun #Produktivitas Kopi Wanagiri #70 Persen