Film ini menjalani proses syuting selama kurang lebih 20 hari. Tetapi konsep film telah dilakukan sejak 5 tahun lalu. Jalan berliku dilalui sutradara serta produser untuk mewujudkan film tersebut. Akhirnya film ini rampung dan berhasil dirilis. Film ini pun rencananya akan dimatangkan kembali agar dapat dibawa ke ranah internasional. “Kami selalu berharap yang terbaik. Dibalik jalan kami yang cukup panjang, kami ingin cerita rakyat Bali yang kami kemas melalui film ini dikenal masyarakat. Khususnya generasi muda yang saat ini digempur dengan tontonan dari luar negara,” ujar Produser Film Jayaprana Layonsari, Adi Wiryatama saat ditemui, Minggu (30/4) lalu.
Keberhasilan film Jayaprana-Layonsari ini tak lepas dari Kerjasama para aktor. Pemeran dalam film ini seluruhnya menggunakan artis lokal. Bahkan melibatkan pemain drama gong hingga selebgram. Berbagai pengalaman unik dialami para pemeran. Rata-rata dari mereka baru pertama kali merasakan syuting film secara professional. “Memang benar-benar pengalaman luar biasa. Berbeda rasanya ketika main film pendek dengan film layer lebar seperti ini. Sedikit saja ada perubahan yang tidak sesuai akan ketahuan. Akhirnya mengulang lagi. Benar-benar harus dibuat natural,” ujar Made Candriga Krisna yang berperan sebagai Berit, Bibi dari Layonsari.
Pengulangan adegan juga dirasakan oleh Nyoman Darwin Saputra alias Mang Ajik. Ia yang notabene aktor drama gong acapkali lepas kendali. Seperti halnya ketika melafalkan dialog. Pemeran Genyol ini tanpa disadari ia mengungkapkan dialog dengan nada keras, power tinggi, persis seperti pentas di panggung saat bermain peran dalam drama gong. Kendati demikian ia cepat menyesuaikan. Maklum saja, konon Mang Ajik juga pernah bermain sinetron di Indosiar. Namun pengalaman itu sudah sangat lama dan membuat Mang Ajik kerap lupa. “Sangat berbeda. Sempat tidak sadar berdialog seperti di drama gong, langsung diulang. Kembali saya mengingat-ingat teknisnya supaya tidak seperti bermain drama. Harus pelan, natural. Rasanya hembusan nafas saja ketahuan apalagi Gerakan yang lain. Itu lucunya, terkadang saya lupa,” terangnya saat ditemui di rumahnya, Banyuning, Senin (1/5).
Tantangan berakting bagi para pemain adalah adegan menangis. Mereka harus benar-benar menangis ketika adegan itu harus dilakukan. “Itu harus benar-benar mengeluarkan air mata. Tidak bisa diganti gengan obat tetes mata. Akan ketahuan bohongnya,” ujar Ayu Suartini, pemeran Luh Metri, teman masa kecil Jayaprana.
Meski tidak memiliki pengalaman bermain film, para aktor berusaha memberikan yang terbaik. Pemeran utama Jayaprana misalnya. Tokoh ini diperankan Made Janhar Winatha Gautama. Adegan paling menguras emosi adalah adegan terakhir saat ia akan dibunuh oleh Patih Saung Galing. Ia harus menunjukkan ekspresi ketakutan, ikhlas, marah secara bersamaan. Tentu saja hal itu sangat berat bagi Janhar, namun ia dapat menyelesaikan dengan baik. “Benar-benar menguras emosi. Dan saya harus menyelesaikannya bagaimanapun caranya,” terang pemuda 22 tahun itu.
Selain pengalaman berkating, dalam proses penggarapan film ini, pemeran juga mengalami hal diluar nalar. Layonsari yang diperankan oleh Ni Luh Putu Diah Puspita Dewi hampir trance (kesurupan). Adegan itu diambil saat berada di rumah tua di Desa Kalianget, Kecamatan Banjar, Buleleng. Saat itu Diah harus beradegan menusuk dirinya sendiri dengan pisau. Tetapi penghayatan yang dilakukan Diah benar-benar membuat merinding. Pisau yang digenggamnya seakan-akan benar-benar merangsek ke dadanya. Hal itu dengan cepat disadari sutradara dan crew. Adegan pun dihentikan dan crew kembali menenangkan emosi Diah. “Saat itu benar-benar bukan saya. Saya sadar tapi saya merasakan hal yang berbeda saat adegan itu. Samar-samar saya merasa diri saya bukan saya. Saya bukan Diah tapi Sekarsari (Layonsari). Saya merasakan emosional yang berbeda dalam diri saya. Tapi saya tidak tahu apakah hal yang sama juga dialami pemain yang lainnya. Yang jelas saat giliran saya terjadi begitu,” ujar gadis 19 tahun asal Tabanan ini.
Kondisi Diah pun disadari sutradara Putu Kusuma Wijaya. Kecurigaan terhadap akting Diah dengan cepat ditangani, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Ketika melihat akting Diah ia menyadari bahwa yang berada di tempat itu bukanlah aktor yang sebenarnya. “Saat lihat saya kaget. Ini bukan manusia lagi nih. Tapi saya salut dia bisa menguasai diri,” terangnya.
Hal yang menarik dalam garapan film layar lebar ini adalah dengan menggunakan Bahasa Bali secara menyeluruh. Tentunya bahasa Bali yang digunakan khusus dengan dialek Buleleng. Dan film ini pun mengangkat konsep klasik yang menggambarkan kehidupan masyarakat Bali pada masa lampu. Selain menonjolkan penggunaan Bahasa Bali, juga akan ditampilkan karya-karya perajin Bali seperti kain tenun. Disamping itu, wajah-wajah baru yang muncul dalam karya ini menjadi museum wajah Bali dalam film Jayaprana-Layonsari. “Museum wajah itu dalam artian, ada wajah-wajah baru yang menghiasi layar kaca. Orang yang tidak mungkin wajahnya muncul di TV, itu akan kami coba untuk tampilkan, kami berdayakan. Ini pertama kalinya garapan Jayaprana-Layonsari menggunak.an Bahasa aslinya,” tutup Putu Kusuma Editor : I Dewa Gede Rastana