DENPASAR, BALI EXPRESS – Duta Kabupaten Baung, yakni Sekaa Gong Genta Budaya, Banjar Dalem, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, akhirnya kembali tampil dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV Tahun 2023. Penampilan Sekaa Gong Kebyar Legendaris ini kembali dilakukan setelah 41 tahun lalu. Dalam Utsawa Gong Kebyar Legendaris di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali (Art Center), 3 Juli 2023, Sekaa Gong Genta Budaya membawakan empat karya yang pernah berjaya pada masanya. Seperti Tabuh Pat Lelambatan Mina Ing Segara, Tari Legong Supraba Duta, Sandyagita Gegitan Wilet Mayura dan Kidung Wilet Mayura, dan Tari Baris Gurnita Wira Rebana.
Ketua Panitia Pementasan Sekaa Gong Genta Budaya di PKB XLV, Wayan Suardiana, dari penuturan para sesepuh, terbentuknya Sekaa Gong Genta Budaya ini bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni pada tahun 1927. Namun kala itu, perangkat gamelan baru mendekati 50 persen. Sedikit demi sedikit perangkat gamelan bertambah hingga menjadi komplit pada 1973.
Baca Juga: Parade Wayang Kulit, Duta Kabupaten Badung Bawakan Lakon Alengka Brastha
Di tahun-tahun berikutnya, latihan mulai dilakukan dengan intensif dengan mendapatkan pelatihan dari I Gusti Made Lumbung yang berasal dari Mambal (kini wilayahnya pemekaran menjadi Desa Mekar Bhuana). Sampai pada satu kesempatan, Sekaa Gong Genta Budaya ikut seleksi di tahun 1981 dalam acara yang diadakan oleh Pemkab Badung. Saat itu masih gabung bersama Kota Denpasar. Setelah seleksi, terpilih Sekaa ini sebagai wakil Duta Badung pada PKB ke-4 tahun 1982. “Jadi setelah tahun 1982, tahun 2023 ini adalah penampilan kedua kami di PKB setelah 41 tahun lamanya,” jelasnya.
Suardiana melanjutkan, dalam pementasan kali ini para penabuh angkatan 1982 juga ikut andil. Bahkan jumlahnya 40 persen dari total penabuh. Sebagian besar masih diberikan tetap menabuh di posisi perangkat gamelan tahun 1982. Namun ada juga pemain yang digeser karena kemampuan tenaganya yang sudah tidak seenergik dulu.
Meski kini usianya rata-rata di atas 60-77 tahun, namun semangatnya sangat luar biasa. Suardiana pun menerangkan, justru yang muda merasa tertantang mengimbangi semangat para lansia. “Mereka yang sudah lansia saja masih semangat meski latihan hampir setiap malam dan gladi bersih di tengah cuaca hujan. Kami yang lebih muda seperti tertantang untuk mengimbangi semangat mereka,” ungkapnya.
Hanya saja pihaknya menyebutkan, karena kondisi fisik lansia yang tak sekuat dulu, dalam perjalanan latihan salah satu penabuh lansia tak bisa melanjutkan impiannya tampil kembali di PKB. Meski ada sedikit perasaan sedih, namun seniman lawas tersebut sudah berlapang dada tidak ikut tampil.
“Memang saat mengawali latihan kami sudah lakukan pengecekan kesehatan, karena kami tahu yang tampil ini banyak lansia. Namun ada satu sesepuh yang drop di tengah proses latihan. Beliau lapang dada tidak bisa ikut, meski ada rasa sedih karena apa yang ditunggu-tunggu tidak bisa diikuti. Padahal ketika kita undang rapat-rapat untuk pementasan ini, dia datang paling pertama,” terangnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana