Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berikut Proses Beyakaon dalam Penyucian Umat Hindu di Bali

I Putu Mardika • Sabtu, 8 Juli 2023 | 12:00 WIB
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, I Gusti Agung Istri Purwati
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, I Gusti Agung Istri Purwati

BALI EXPRESS - Tidak sembarangan dalam melakukan prosesi beyakaon (penyucian umat Hindu Bali) baik untuk ritual Dewa Yadnya maupun Manusa Yadnya. Sebab, ada tata aturan yang harus diperhatikan sebagai prosesi pembersihan melalui beyakaon.

Hal yang perlu diperhatikan adalah tata letak banten beyakaon umumnya paling kiri posisi pemuput. Urutan dimulai dari kiri beyakon, kemudian sisi kanan itu adalah durmanggala, dilanjutkan isuh isuh dan prasista.

“Artinya dari unsur gelap ke terang dan dari bawah ke atas. Penyucian itu tidak boleh sembarangan, harus bertahap,” kata Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, I Gusti Agung Istri Purwati atau yang akrab disapa Gung Ti.

Ia mencontohkan, sebut saja saat di pelinggih ada upacara, maka di bagian pelinggih lah yang terlebih dahulu untuk dibersihkan. Pembersihan meluas dan kemudian menyasar areal pekarangan barulah bagaimana manusianya berkembang.

Prosesnya diawali dengan memercikkan dari pebersihan yang dianalogikan sebagai orang mandi. Ini dipercikkan bagian bawah saja. Setelah itu barulah alat pebersihan lainnya, sepertti beras, benang merah.

Begitu juga sapu, ambengan dijadkan sebagai sarana pembersihan dan base tulak, lalu telor. Selanjutnya menggunakan lis, dan baru bungkak gadang dipercikkan di bagian bawah dengan lis.

Kemudian dilanjutkan dengan memercikkan tirta yang diarga oleh pemangku atau sulinggih. Disusul dengan banten. Dan ini berlaku di semua pelinggih dan lingkungan.

Tahap selanjutnya barulah membersihkan unsur bhuwana alit atau manusianya. Tahapannya pun sama. Hanya perbedaannya adalah benang merah yang diikatkan pada bagian jempol kaki kanan.

“Kalau beayakon dalam kaitan orang menikah, maka ada saksi, yaitu api dalam bentuk prakpak dalam kekeb. Ini sebagai saksi penyatuan sampai menjadi sah. Setelah itu yang paling menonjol adalah penggunaan pesucian di telapak tangan kanan dan kiri,” paparnya.

Setelah selesai dicuci bersih dengan air kemudian mesabet di bagian kaki, baru setelah itu membalikkan telapak tangan. Semua kuku kaki jari dikerik dan dibersihkan lalu diletakkan di punggung telapak tangan.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #beyakaon #dewa yadnya #manusa yadnya #hindu