Pengalaman selama berada di tanah suci disebut-sebut sebagai perjalanan panjang dan berat. Sebab, suhu di Mekkah mencapai 47 derajat. Cuaca panas di negeri Arab itu pun membuat jemaah pada awal kedatangan kesulitan beradaptasi. "Benar-benar luar biasa berat perjalanan tahun ini. Awal-awal kami, apalagi sudah lansia kesulitan beradaptasi, karena memang panas sekali. Tapi perlahan kami bisa menyesuaikan diri. Bisa memahami situasi," kata Ketua MUI Buleleng Ali Mustofa, Sabtu (23/7) malam.
Baca Juga: Kemenag Lepas Puluhan Jamaah Haji Khusus Bumi Nata Wisata
Suasana haru juga terlihat dari beberapa keluarga. Mereka bahagia melihat kembalinya rombongan dengan sehat dan utuh. "Memang dari Bali dinyatakan ada satu orang yang meninggal. Tapi Alhamdulillah kami dari Buleleng utuh. Kembali semuanya," tambahnya.
Sementara itu, perjalanan haji ini menjadi pengalaman kedua bagi Haji Muhammad Arsyad. Pria berua 73 tahun ini sudah tiga kali menginjakkan kaki di Mekkah. Ia datang ke Mekkah untuk melaksanakan haji tahun 2006. Kemudian beberapa tahun kemudian ia kembali ke Mekkah untuk Umroh. Dan tahun 2023 ia kembali naik haji bersama rombongan Kabupaten Buleleng.
Cuaca yang panas dengan suhu tinggi itu menjadi tantangan bagi jemaah. Terlebih dirinya sudah berusia 73 tahun. Kendati demikian ada pengalaman yang mengesankan bagi jemaah. "Perbukitan dan jarak tempuh yang lumayan jauh. Kami terharu. Kami berpikir dulu leluhur kami berjalan kaki untuk sampai ke Mekkah," ujarnya.
Meski lelah usai melalui perjalanan panjang, puluhan jemaah haji itu nampak sumringah. Betapa tidak, keluarga yang menunggu di masjid menjadi sumber kebahagiaan mereka. Sambutan hangat dari pengurus masjid pun menjadi motivasi mereka. (*)