BALI EXPRESS- Masyarakat Bali sepertinya tidak asing dengan lagu Merah Putih yang diciptakan almarhum Gde Darna era 1945-an. Lagu ini menyimpan fakta menarik untuk diketahui masyarakat.
Lagu Merah Putih berbahasa Bali. Lagu ini kerap dinyanyikan pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus bermaksud untuk menggugah rasa nasionalisme.
Lagu Merah Putih ini tidak hanya dikumandangkan saat peringatan Hari Kemerdekaan RI semata.
Lagu ini Juga kerap dinyanyikan oleh supporter Bali United untuk memberikan semangat kepada keseblasan Tri Datu ini.
Tak jarang, lagu ini juga dinyanyikan siswa yang duduk sekolah dasar. Liriknya yang sederhana dan singkat membuat lagu ini sangat mudah dihafal.
Selain itu, alunan lagu ini begitu enak didengar seperti layaknya lagu perjuangan lainnya, sehingga sebagian besar senang menyanyikannya.
Berikut lirik lagunya:
Merah putih, benderan titiange
Berkibaran di langite terang galang
Nike lambang jiwan raga indonesia
Merah brani medasar hatine suci
Pusaka adil leluhur jaya sakti
Merah putih benderan titiange
Almarhum Gede Darna merupakan seorang seniman dan sastrawan asal Sukasada, Buleleng.
Gede Darna memiliki sumbangsih besar dalam membakar spirit nasionalisme melalui karya sastra Bali modern.
Lagu Merah Putih menjadi media pengenalan rasa kebangsaan melalui pendidikan dini. Lewat lagu Merah Putih anak-anak pertama kali mengenal identitas kebangsaannya bendera merah putih.
Fakta di balik lagu Merah Putih karya Gede Darna
- Diciptakan 1945, Direkam Puluhan Tahun setelahnya
Ada sejumlah fakta yang perlu diketahui di balik terciptanya lagu Merah Putih yang diciptakan Gede Darna.
Lagu Merah Putih ini diciptakan sekitar tahun 1945-an. Lagu ini ditulis karena melihat semangat heroik masyarakat Buleleng terhadap serangan tentara NICA 27 Oktober 1945.
Namun, perekaman lagu itu baru dilakukan ke dalam bentuk piringan hitam setelah puluhan tahun diciptakan. Bahkan, lagi ini pun langsung popular di masyarakat seantero Pulau Bali.
- Terinspirasi dari Perang Bendera di Pelabuhan Buleleng
Dari berbagai refrensi disebutkan bahwa terciptanya lagu Merah Putih bermula dari perang bendera di areal Pelabuhan Buleleng.
Kisah ini dimulai pada tanggal 25 Oktober 1945 berlabuh ke Pelabuhan Buleleng Selanjutnya pada 26 Oktober 1945 membongkar gudang.
Kemudian lihat ada bendera putih diganti menjadi merah putih biru. Keesokan harinya Belanda kembali melihat bendera tersebut berwarna merah putih.
Pasukan Belanda turun lagi dari kapal dan memperlihatkan kekuatan yang lebih hebat lagi. Kejadian ini terjadi pada 27 Oktober 1945.
Hal inipun menimbulkan kegeraman masyarakat Bali. Bahkan mereka melakukan perlawanan.
Sebagai bentuk perlawanan, datanglah pemuda Denpasar, Tabanan untuk menurunkan bendera Belanda. Proses penurunan bendera tak berjalan mulus.
Rupanya bendera nyangkut di tiang. Para pemuda akhirnya memilih naik ke tiang bendera dan memotong tali bendera itu.
Pada saat menurunkan bendera itu diketahui oleh Belanda dan para pemuda ditembaki.
Saat itu pemuda bernama Ketut Merta asal Liligundi tertembak dan meninggal dunia.
Awalnya para pemuda tidak mengetahui ada korban. Akan tetapi paginya para pemuda baru mengetahui ada mayat di sana.
Atas peristiwa itulah mendiang I Gde Dharna menciptakan lagu Merah Putih untuk mengenang peristiwa yang terjadi saat itu.
Peristiwa perang bendera dengan Belanda menjadi inspirasi membuat lagu Merah Putih. Hingga lagu Merah Putih menjadi popular sampai saat ini dan Eks Pelabuhan Buleleng menjadi ikon bersejarah di Buleleng.
- Populer di Era PNI Besutan Soekarno
Semangat nasionalisme dalam lagu Merah Putih bukanlah tanpa alasan. Dharna adalah juga seorang veteran pejuang.
Tahun 1946–1948, Dharna mengawali perjuangannya sebagai anggota Gerakan Rahasia Rakyat Indonesia (GRRI) Markas Ayodia.
Dia banyak berjuang melalui bidang kesenian, mengobarkan semangat perjuangan melalui seni.
Pilihannya berjuang ini dipengaruhi seniman pejuang, Pak Cilik dan I Gusti Bagus Panji. Di sisi lain, lagu Merah Putih kian popular pada tahun 1963 oleh pendukung Partai Nasionalis Indonesia (PNI) besutan Soekarno.
Meski demikian, sesungguhnya lagu tersebut bersifat netral, lebih pada ungkapan penghormatan kepada bendera kebangsaan Indonesia. (*)
Editor : I Made Mertawan