Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bali Mampu Olah Vanili Sendiri, Tapi Ini Kendalanya

IGA Kusuma Yoni • Minggu, 27 Agustus 2023 | 17:10 WIB
KENDALA: Putu Dirga, pengelola Bali Vanilla Beans, hadapi beberapa kendala terkait pengolahan vanili.
KENDALA: Putu Dirga, pengelola Bali Vanilla Beans, hadapi beberapa kendala terkait pengolahan vanili.

TABANAN, BALI EXPRESS - Vanili bukanlah menjadi komoditi yang baru bagi petani Bali, pasalnya budidaya vanili di Bali sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Jenis vanili yang dikembangkan saat itu adalah vanilla planifolia yang berasal dari Mexico.

Namun sejak pertengahan tahun 1980-an tanaman vanili seolah terlupakan karena pada masa itu tanaman vanili di Bali diserang penyakit busuk batang, sehingga banyak petani yang beralih ke tanaman lainnya.

Bagaimana eksistensi petani Vanili di Tabanan?

Di Tabanan sendiri, budidaya vanili terbesar ada di Kecamatan Selemadeg dan beberapa juga ada di Pupuan.

Sejak beberapa tahun lalu petani vanili yang tergabung dengan Kelompok Semeton Petani Vanili Bali, sudah mulai menikmati indahnya panen vanili. Bahkan di Tabanan ada sebuah rumah produksi yang sudah mampu olah polong vanili basah menjadi vanili gourmet untuk pasar Eropa.

Putu Dirga, pengelola Bali Vanilla Beans yang berlokasi di Desa Tegal Jadi Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan, mengakui, saat ini rumah produksi ini sudah mampu mengolah vanilla pod (buah vanili yang dikeringkan) untuk dipasarkan kepada pelanggannya di banyak negara di Eropa. 

 "Saat ini, pasar utama kami adalah negara-negara di Eropa, namun sistemnya bukan ekspor langsung, tapi masih dibeli oleh langsung oleh buyer dari luar yang datang langsung ke rumah produksi," jelasnya.

 Baca Juga: Selundupkan Kompor untuk Buat Kopi, Gerbong Kereta Terbakar, Sembilan Tewas

Bali Vanilla Beans, lanjutnya, sudah mampu olah sebanyak 2,5 ton basah (hasil panen dari petani) per tahun yang diolah secara manual.

Vanili ini dihasilkan oleh anggota kelompok yang berasal dari seluruh Bali.

Saat ini jumlah anggota Kelompok Semeton Petani Vanili Bali mencapai 150 orang.

Untuk jumlah produksi yang mampu dihasilkan selama satu kali masa panen bisa mencapai angka di atas 10 kg.

Vanilla grade A dan untuk vanilla grade B hasilnya bisa lebih diatas 10 kg atau tergantung kualitas dari kualitas vanili hasil panen yang diterima dari para petani.

Untuk harga jualnya, jelas Dirga, per kilo vanilla kering grade A dijual dengan harga Rp 2,5 juta. Selain itu, rumah produksi ini juga punya produk kemasan untuk oleh-oleh yakni vanilla pods yang dijual dengan harga Rp 12 ribu per pcs. 

Meskipun harga vanili kering mencapai angka Rp 2,5 juta per kilogram, sampai saat ini pihaknya masih mengalami beberapa kendala untuk mengembangkan produksi.

Salah satunya adalah kendala permodalan dan ketersediaan teknologi pengolahan paska panen.

Diakui Dirga, pihaknya memang memerlukan modal yang cukup banyak per tahunnya. Jika dikalkulasikan secara sederhana, dalam satu tahun pihaknya harus memiliki uang sebesar Rp 500 juta untuk membeli 2,5 ton vanili dari petani dengan harga per kilogram vanili basah mencapai Rp 200 ribu.

Selain modal yang cukup besar, kendala lain yang dihadapinya adalah proses pengolahan paska panen vanili untuk menjadi produk turunan lainnya. "Untuk mengolah menjadi produk turunan ini, kami memerlukan alat yang harganya cukup mahal, sehingga sampai saat ini kami belum bisa membuat produk turunan dari vanilla Bean ini," tambahnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #olah #kendala #Vanili #tabanan