+
KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Embung dengan kapasitas mencapai 1.000 liter pe detik akan dibangun di kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Eks Galian C, Desa Gunaksa, Klungkung, Bali. Peletakan batu pertama pun dilakukan Kamis (31/8).
Nantinya embung ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan PKB saja namun juga untuk suplai kebutuhan air bersih di wilayah Klungkung dan sekitarnya.
Peletakan batu pertama pembangunan sistem penyediaan Air Baku Embung Sungai Unda tersebut dihadiri langsung Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, beserta undangan lainnya. Embung yang pembangunannya akan menghabiskan anggaran sekitar Rp140 Miliar itu akan dibangun dalam dua tahapan.
Gubernur Bali Wayan Koster menyebutkan jika pembangunan pertama akan dianggarkan Rp60 Miliar dan tahap kedua sekitar Rp80 Miliar. “Jadi pembangunan embung ini akan menghabiskan anggaran sekitar Rp140 Miliar," tegasnya.
Ditambahkannya jika pembangunan embung Sungai Unda ini dilakukan langsung Kementerian Pekerjaan Umum, memalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida. Embung ini dibangun di lahan sekitar 6 hektar, dengan daya tampung air sekitar 143 meter kubik. Sementara kapasitas air dari embung ini, diperkirakan mencapai 1000 liter per detik.
“Embung ini dibangun bertujuan untuk mendukung kebutuhan air untuk Pusat Kebudayan Bali dan sisanya untuk kebutuhan air di Kabupaten Klungkung untuk irigasi, kedepanya Tukad Unda akan ditata dan dijaga menjadi objek wisata, sehingga Klungkung kedepanya memiliki sumber pendapatan yang baru untuk peningkatan perekonomian. Semoga kedepanya pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan baik, lancar dan sesuai rencana sesuai target waktu yang ditentukan,” imbuhnya.
Pembangunan embung ini dilaksanakan secara multiyear (berkesinambungan), yang dibangun dari 23 Juli 2023 sampai 29 Juni 2024. Dengan dua tahap pembangunan, pertama pembangunan embung dan tahap dua instalasi perpipaan.
Dan nantinya Embung ini nantinya akan menampung aliran air yang berada di hilir Sungai Unda, atau 500 meter dari titik kawasan inti Pusat Kebudayaan Bali sehingga tidak mengganggu aliran irigasi.
Nantinya, sisa dari kapasitas air di embung ini akan dimaksimalkan kebutuhan air bersih di wilayah Klungkung dan sekitarnya.
"Nanti bisa juga air bersih dari embung ini dimanfaatkan untuk irigasi, atau kebutuhan air bersih lainnya di Klungkung, Gianyar, ataupun Denpasar," sebutnya.
Dirinya juga mewanti-wanti rekanan untuk bekerja sungguh-sungguh dan tidak main-main dengan proyek tersebut. Sehingga nantinya embung itu dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Terlebih lokasi embung tersebut selama ini dianggap tenget (sakral) oleh masyarakat sekitar.
Tak lupa mengingatkan dampak secara niskala (magis), jika rekanan tidak serius atau bahkan melakukan penyimpangan dalam mengerjakan proyek fisik tersebut. Sebab menurutnya lokasi itu sangat keramat secara sekala dan niskala. Sehingga diharapkan dengan dukungan semua pihak serta restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, apa yang direncanakan ditempat ini dapat berjalan dengan lancar serta niat baik, tulus, lurus dan ikhlas.
“Jangan main-main di kawasan ini. Ini dulunya lahan kosong bekas aliran lahar letusan Gunung Agung tahun 1963 silam. Tempat ini tenget, kalau tidak bekerja dengan baik, bisa sengkala (celaka). Harus tulus bekerja demi warga di sini. Kalau saya temukan ada pelanggaran, akan saya blacklist,” seru Koster yang memperingatkan rekanan agar bekerja dengan sungguh-sungguh.
Pelaksanaan Pekerjaan oleh Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR menyebutkan bahwa proyek tersebut didanai APBN Tahun Anggaran 2023/2024 senilai Rp.61.059.000.000. Selain berfungsi mengatasi banjir yang selalu melanda wilayah ini, embung ini juga akan menjadi pendukung pariwisata di Kabupaten Klungkung. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana