SINGARAJA, BALI EXPRESS – Badannya tinggi dan kurus. Berat badan tidak sampai 60 kilogram. Dialah Gede Rimbawa. Lelaki 57 itu tinggal di Jalan Pulau Menjangan, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng. Sekilas dilihat dari perawakannya tidak ada yang menyangka bahwa Rimbawa adalah atlet tinju hebat.
Walau fisiknya yang terbilang cocok sebagai atlet lari, tapi bukan itu faktor satu-satunya yang harus dimiliki petinju. Skill dan mental tentu saja menjadi hal utama.
Perjalanannya ke dunia tinju berawal dari pengalamannya saat sekolah dasar. Ia kerap mendapat rundungan dari teman-temannya lantaran ia siswa pindahan dari luar Bali kala itu. Maksud hati Rimbawa ingin melawan, tapi apa daya ia hanya sendiri dan lemah. Ia memilih diam. “Mungkin karena saya murid baru dulu,” selorohnya mengenang.
Kini Rimbawa berusia 57 tahun. Ia masih menggeluti tinju. Sebelum belajar tinju konon ia sempat belajar silat di Lombok. Ia dilatih pamannya. Tapi ayahnya lebih getol melatih tinju. Akhirnya Rimbawa memilih serius pada tinju. Jika ada yang berani merundungnya, makai a ingin meninjunya. “Inginnya begitu. Bapak saya atlet tinju juga tahun 1960-an,” terangnya kepada Koran Bali Express (Jawa Pos Grup).
Walau berat dan sakit, Rimbawa tidak pernah mengeluh soal latihan. Ayahnya selalu melatih Rimbawa dengan serius. Sepulang sekolah ia harus berlari keliling Banyuning untuk melatih ketahanan fisik. Tahun 1970an Rimbawa memulai karirnya sebagai petinju junior. Bahkan ia berhasil memenangkan beberapa pertandingan.
“Bapak saya melatih saya sungguh-sungguh. Ketika bertanding bapak itu tim intelijen saya. Pasti selalu mengamati lawan-lawan saya untuk mengetahui kelemahan lawan,” ungkapnya bersemangat.
Menjadi atlet tinju harus tetap memperhatikan tubuh agar selalu prima. Susu, telur dan suplemen lainnya menjadi santapan wajib Rimbawa setiap hari. Disamping bertanding di Buleleng, Rimbawa juga bertanding kemana-mana. Seperti Denpasar hingga Jembrana. Bersama sang ayah ia menempuh perjalanan jauh dan melelahkan dengan sepeda motor kala itu. Termasuk mengikuti seleksi PON XI saat itu.
Pada tahun 1982, ia meraih juara 1 Tinju Kelas Terbang Madia se-Bali di Negara. Dan tiga tahun kemudian, ia meraih juara 2 dalam Kejuaraan Tinju Amatir Sarung Tinju Emas Nasional (STEN) X 1985 di Manado, Sulawesi Utara.
Di tahun yang sama, ia meraih medali emas dalam Kejurnas Junior V di Jakarta untuk kelas 54 KG setelah menumbangkan 27 peserta, termasuk atlet dari Sumatera Utara dalam babak final. Ia menang angka.
Saat bertanding di Probolinggo, Jawa Timur, sekitar tahun 80an, Rimbawa pernah diteriaki dengan sebutan “Leak Bali. Leak Bali. Leak Bali” karena berhasil menumbangkan atlet tuan rumah kurang dari satu menit. “Dia KO. Sampai tak sadarkan diri. Dan kabarnya dilarikan ke rumah sakit,” jelasnya sembari mengingat.
Rimbawa yang memiliki tekad bulat menjadi atlet tinju hebat, pernah mengayunkan tinjunya dalam ring di Thailand dan Rumania. Ia pun harus benar-benar mempersiapkan diri, sebab pertandingan di luar negeri atmosfernya tidak seperti di Indonesia.
“Kalau sudah berangkat ke luar negeri tentu sudah melalui seleksi yang panjang. Tidak sembarangan pula. Porsi latihannya juga beda. Tapi yang paling mengesankan adalah saat di Thailand. Itu memperebutkan Piala Raja, sekitar tahun 1990an,” ungkapnya.
Saat bertanding di Thailand, lawan terberat baginya adalah atlet dari Uganda dan Kenya. Menurutnya, kualitas pukulan mereka sangat keras, lain dengan rata-rata atlet dari Indonesia. Padahal, dari ketahanan napas dan fisik, Indonesia tak kalah dari negara Kenya.
Baca Juga: Terima Kunjungan Bupati Sanggau Kalbar, Sekda Adi Arnawa Beberkan Perkembangan Desa Wisata di Badung
Selama menjadi atlet, cedera terparah yang pernah didapatkan Rimbawa hanya saat mengikuti kejuaraan di Denpasar. Saat itu kepalanya sampai bocor, berdarah, terkena gigi lawan. “Pelindung giginya dia terlepas. Ini bekas jahitannya masih ada,” katanya sambil meraba kepalanya, mencoba meyakinkan.
Kini keseharian Rimbawa lebih banyak berada di Sasana Panca Satria Boxing Camp. Ya, sasana tinju itu adalah miliknya. Ia melatih beberapa atlet di sasana itu termasuk putranya Agus, yang kini juga sebagai atlet tinju. (*)