Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ahli Forensik Dr Djaja Surya Atmaja Yakin Kematian Mirna Salihin Bukan karena Sianida, Ini Faktanya

Wiwin Meliana • Senin, 9 Oktober 2023 | 17:50 WIB
YAKIN: Ahli Forensik Dr Djaja Surya Atmaja meyakini bahwa kematian Mirna Salihin bukan karena sianida yang ada di kopi.
YAKIN: Ahli Forensik Dr Djaja Surya Atmaja meyakini bahwa kematian Mirna Salihin bukan karena sianida yang ada di kopi.

BALI EXPRESS - Fakta-fakta baru dalam kasus kopi sianida menyeruak ke publik. Kali ini diungkap oleh dokter ahli forensik, dr Djaja Surya Atmaja.

Dalam podcast bersama dr Richard Lee, ia  memberikan kesaksian yang mengejutkan, terkait kasus kematian Wayan Mirna Salihin.

Ia yakin, yang menyebabkan kematian Mirna bukanlah racun sianida.

Dalam podcast tersebut, dr Djaja menyatakan pendapatnya bahwa Mirna meninggal bukan karena meminum kopi sianida yang disebut-sebut disodorkan oleh Jessica Wongso.

Dr Djaja merupakan dokter yang bertugas mengawetkan jenazah dalam kasus kematian Mirna Salihin tujuh tahun silam.

Dokter Djaja menerima jenazah Mirna Salihin dua jam setelah kematian perempuan berusia 27 tahun tersebut.

Dr Djaja mengungkap bahwa keinginan untuk melakukan otopsi terhadap jenazah Mirna sempat ditolak oleh pihak keluarga.

Ia sempat melakukan pemeriksa luar terhadap tubuh korban. Karena ia mendengar bahwa penyebab kematian adalah racun sianida.

Namun, ketika diperiksa, wajah dan tubuh Mirna Salihin berwarna kebiruan.

Padahal, kalau benar meninggal karena sianida, seharusnya berwarna merah cerah.

Selain itu, ketika Djaja menekan lambung Mirna sembari mencium hawa yang keluar dari mulut dia, tidak dideteksi bau sianida sedikit pun.

Pada penelitian sampel pertama, yakni di muntahan Mirna, juga tidak ditemukan senyawa sianida.

Akan tetapi otopsi di jenazah Mirna Salihin dilakukan paska pihak keluarga mengizinkan sebelum jenazah disemayamkan.

Namun pihak keluarga hanya membolehkan pengambilan sampel saja.

"Diambil isi lambungnya, ambil jaringan hatinya, darah, dan urine. Udah (tubuh korban) ditutup lagi," ungkap dokter Djaja di podcast Richard Lee, dikutip pada Senin (9/10) dari Disway.

Dari sampel kedua yang diambil di RS Polri, tidak ditemukan sianida dalam hati, darah, dan urine Mirna. Sianida hanya ditemukan di lambung, dengan kadar 0,2 mg.

Hal itu bertentangan dengan hasil penelitian sampel pertama.

"Logikanya, kalau ada sianida dalam kadar besar, terus kemudian jadi kecil, itu mungkin masuk di akal. Tapi kalau tidak ada kemudian jadi ada, itu kan tanda tanya. Dari mana?," cetus pria lulusan Kobe University, Jepang, tersebut.

Kadar sianida dalam tubuh Mirna juga disebut sangat kecil untuk bisa mengakibatkan kematian pada manusia. Kadar yang bisa mengakibatkan kematian biasanya antara 150-250 mg.

"Jadi jika 150 ml masuk ke lambung, dan lambung kita penuh air, maka 150 ml/liter itu 2 jam setelahnya harusnya masih ada di urine, di darah, di hati," jelas dokter Djaja.

Editor : Nyoman Suarna
#sianida #jessica wongso #Mirna Salihin #dr djaja #forensik