DENPASAR, BALI EXPRESS - Petugas gabungan dari berbagai instansi masih berjibaku memadamkan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar Selatan, Bali, hingga Selasa (17/10).
Kebakaran TPA terbesar di Bali tersebut mulai menyebabkan beberapa warga mengalami gangguan pernafasan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali I Made Rentin menerangkan, operasi pemadaman dari darat konsisten dilakukan dengan armada pemadam kebakaran.
Dibantu dengan mobil water canon, excavator, loader, dan kehadiran Tim Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sementara itu, dua helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan water bombing dari udara.
"Water Bombing menyasar beberapa spot api sesuai pembagian tugas, dilakukan lebih dari ratusan kali dalam satu hari," bebernya.
Rentin mengatakan, sejauh ini kebakaran sudah mengenai seluruh area tumpukan sampah di TPA Suwung seluas 12 hektare.
Sedangkan area yang masih menyimpan api sekitar enam hektar. Namun, berkat kegigihan petugas gabungan, api di permukaan disebut sudah tidak ada dan yang masih menyala adalah api terpendam di dalam tumpukan sampah.
Maka dari itu, pihaknya saat ini fokus melakukan manajemen asap. Sehingga diharapkan asap bisa dikendalikan agar tidak berdampak lagi ke wilayah sekitar.
Pihaknya pun akan mencari titik-titik api yang terpendam ini agar bisa segera tertangani.
"Hasil pantauan sampai dengan satu hari kemarin, relatif efektif pergerakan tim KLHK, karena mereka bisa menyemprot betul-betul titik sumber api yang berada di tumpukan sampah," tambahnya.
Pihaknya menargetkan, proses pemadaman dapat tuntas selama tiga hari ke depan.
Sebelum masa status darurat bencana yang ditetapkan oleh Walikota Denpasar IGN Jaya Negara habis pada 23 Oktober 2023.
Selain itu, sesuai kesepakatan dengan Tim KLHK, mereka juga harus mengatensi kebakaran di wilayah Jawa.
Terkait warga yang mengungsi, Rentin menyebut sampai sekarang sudah ada 57 orang dari 10 Kepala Keluarga.
Mereka mengungsi di Kantor Lurah Serangan. Warga mendapat bantuan kebutuhan pokok dari Dinas Sosial Kota Denpasar selaku koordinator di pengungsian.
Posko kesehatan juga dibangun di sana untuk memberikan rasa nyaman termasuk kontrol kesehatan.
Dari puluhan pengungsi tersebut, sempat ada tujuh orang yang mengeluhkan gangguan saluran pernafasan akibat dampak kepulan asap yang memasuki pemukiman.
"Ada tiga sampai tujuh orang sempat keluhkan masalah saluran pernafasan, tapi dengan adanya posko kesehatan, maka mereka terjamin dan dapat perawatan dengan baik," pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra