BALI EXPRESS - Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem selain memiliki tradisi mekare-kare, dan tenun ikat geringsing, juga menjadi penghasil kerajinan seni melukis lontar prasi yang sangat artistik.
Hasil kerajinan seni lontar prasi ini sangat diminati wisatawan yang berkunjung, bahkan dikoleksi oleh tokoh-tokoh nasional hingga internasional.
Seni lontar prasi adalah adalah karya seni rupa menggunakan media daun lontar berupa lukisan klasik berbentuk wayang, dewa-dewi, terkadang disertai teks singkat menggunakan huruf (sastra) Bali.
Kesenian lontar prasi di Tenganan sudah berkembang sejak puluhan tahun silam.
Para pengrajin juga menjadikan kesenian lontar prasi sebagai buah tangan bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Bali Aga.
Dari berbagai informasi yang diperoleh, keberadaan seni prasi di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem dirintis seorang tokoh penyurat lontar bernama I Wayan Mudita Adnyana, kelahiran tanggal 31 Desember 1931.
Pria berusia 92 tahun ini rupanya dikenal sebagai tokoh seni serba bisa di Tenganan.
Selain pandai melukis prasi, ia juga dikenal sebagai penabuh gender hingga menulis aksara Bali di lontar.
Maestro seni prasi I Wayan Mudita Adnyana menceritakan, pada masa mudanya dia suka berpetualang ke berbagai tempat seperti ke Desa Kamasan Klungkung, ke rumah seorang seniman dalang bernama Pekak I Nyoman Delem alias Pekak Mireg (kelahiran tahun 1924).
Selain menjadi dalang, Pekak Mireg juga piawai melukis wayang, menari dan menyurat lontar.
Pertemuannya dengan Pekak I Nyoman Delem, cukup banyak mempengaruhi telentanya sebagai pencipta seni prasi, dalang maupun sebagai penyurat lontar.
“Awalnya saya lebih suka menyurat lontar berupa kakawin sejak tahun 1959. Temanya beragam, dari kisah Lubdaka, Ari Sraya, Bharatayuda dan Negara Kertagama,” ungkapnya.
Selanjutnya tahun 1974, Theo Meier, seniman berkebangsaan Swiss yang waktu itu tinggal di Desa Iseh, mendengar kepiawaian I Wayan Mudita Adnyana menyurat lontar, datang ke Desa Tenganan Pagringsingan untuk menemuinya.
Dalam pertemuan itu Theo Meier meminta Mudita Adnyana untuk menggambar di atas lima bilah daun lontar dengan mengambil cerita Tantri secara naratif.
Dengan kemampuan yang dimilikinya, Mudita Adnyana dapat menyelesaikan seni prasi di atas lima bilah lontar tersebut.
“Tidak disangka, seni prasi itu rupanya sangat disukai Theo Meier. Saya diminta lagi untuk membuat seni prasi dengan cerita klasik seperti Ramayana, Bharatayuda, Sutasoma dan Bhagawadgita,” kenangnya.
Pengkoleksian dari para kolektor maupun kesukaan wisatawan terhadap seni prasi menjadi motivasi bagi dirinya untuk mengembangkan seni prasi.
Goresan tangannya di atas daun lontar terlihat hidup dan memiliki jiwa lantaran dia menguasai tradisi nyastra, menyurat dan membaca lontar.
Ia menceritakan, ada beberapa jenis motif aksara dalam menyurat lontar. Di antaranya Motif Ngetumbah, motif aksara berbentuk bulat dan sangat ideal dari tinggi dan besarnya aksara sehingga tampak indah dan bagus, (bilah lontar antara lebar dan panjang ideal).
Kemudian ada pula Motif Ngranti, motif aksara berdiri ganggas/tinggi dan kurus, (bilah lontar agak lebar tapi pendek).
Selanjutnya adalah motif Pasang Jendra, yaitu aksara memanjang ke samping sehingga tampak aksara agak bocok, (bilah lontar kurus dan panjang.
Membuat seni prasi, sebut Mudita, harus memiliki kemampuan menyuurat sesuai pasang aksara dan membaca aksara Bali. Selain itu, juga harus memiliki kemampun mendalami cerita serta menguasai bentuk/motif tokoh dan teknik menggambar di bilah lontar.
Selama ini dikenal dua jenis lontar prasi yaitu prasi grantangan base yaitu lontar yang melukiskan setiap kalimat atau bait cerita dari karya sastra.
Kemudian prasi gegantaran, yaitu prasi yang memvisualkan cerita yang telah disarikan.
Baca Juga: Tradisi Hindu Bali: Tata Letak dan Alat Ukur Bangunan dalam Asta Kosala Kosali
Karya I Wayan Mudita Adnyana rupanya tak hanya dikoleksi oleh turis mancanegara yang berkunjung. Tetapi juga oleh orang-orang penting.
Di antaranya mantan Presiden Ibu Megawati yang mengoleksi lukisan prasi berjudul Gugurnya Subali.
Selain itu juga mantan Perdana Menteri Selandia Baru Mr. Island Clark, mantan Presiden Italia Sandro Pertini, dan juga Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dan Museum Bali.
“Tentu bangga dan senang karena karya saya dikoleksi oleh tokoh-tokoh hebat. Hal ini membuat saya makin semangat untuk terus berkarya,” paparnya.
Editor : Nyoman Suarna