BALI EXPRESS – Tari Rejang Sang Hyang Iinan merupakan tari wali yang dipentaskan saat Ngusaba Negtegang di Pura Puseh dan Pura Desa, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan.
Proses pementasan tari Rejang Sang Hyang Iinan erat kaitannya dengan proses nunas padi sesuai tradisi di Desa Pujungan, Tabanan, Bali.
Nunas padi dilaksanakan di Pura Luhur Srijong yang ada di Desa Soka Kecamatan Selemadeg dan Pura Bedugul yang ada di Desa Pujungan.
Ritual nunas padi ini nantinya akan digunakan sebagai sarana upacara.
Masyarakat melakukan nunas padi yang diyakini sebagai simbolisasi dari Dewi Sri yaitu Dewa Kemakmuran.
Padi-padi yang telah di-tunas tersebut kemudian diletakkan di jineng atau lumbung sari yang terdapat di Pura Puseh Desa Pujungan.
Jineng atau lumbung sari ini merupakan tempat sakral yang dianggap sebagai tempat yang tepat untuk menyimpan padi-padi tersebut.
Tahapan selanjutnya dilakukan dengan Melaspas Pagu.
Proses ini melibatkan penyucian dan pembersihan pagu sebagai persiapan sebelum nantinya pagu tersebut akan dipentaskan pada puncak karya.
Melaspas merupakan langkah yang sangat penting untuk memastikan kesucian dan kebersihan pagu sebagai wadah yang memuat simbolisasi Dewi Sri dan rezeki yang akan dipersembahkan.
Proses melaspas pagu dilakukan ritual penyucian menggunakan air suci dan bahan-bahan pembersih yang khusus dipersiapkan.
Dengan melakukan proses melaspas pagu, diyakini bahwa pagu tersebut akan terbebas dari segala energi negatif.
Setelah disucikan, pagu siap untuk dipentaskan pada puncak karya upacara. Setelah melewati proses melaspas pagu berubah nama menjadi Sang Hyang Iinan.
“Pagu ini menjadi simbolisasi yang sangat penting dalam upacara, karena merupakan wadah suci yang menyimpan kehadiran dan keberkahan Dewi Sri,” jelas Bendesa Adat Pujungan, I Nyoman Yudana.
“Dengan demikian, proses melaspasin pagu menjadi tahap yang tak terpisahkan dalam rangkaian upacara tersebut,” katanya.
Tahap akhir adalah prosesi Mejaya-jaya. Prosesi ini sebagai puncak pementasan Rejang Sang Hyang Iinan.
Pementasan ini dilakukan di halaman tengah (madya mandala) Pura Puseh Desa Pujungan, sebagai tempat utama untuk upacara tersebut.
Para penari memulai penampilan mereka dengan menari Rejang Sang Hyang Iinan sambil mengelilingi area pura sebanyak tiga kali, yang dikenal dengan sebutan ngider murwa daksina.
Ngider murwa daksina memiliki tujuan khusus, yaitu untuk memungkinkan Dewi Sri melihat orang-orang yang dengan tulus menghaturkan sarana dalam upacara tersebut.
Setelah melaksanakan proses mejaya-jaya dan menyelesaikan upacara keagamaan, rangkaian upacara pementasan Rejang Sang Hyang Iinan telah berakhir.
Pada tahap ini, isi dari pagu di-tunas oleh warga masyarakat Desa Pujungan.
Padi tersebut nantinya akan diletakkan di tempat yang disebut pulu tegteg di rumah masing-masing.
Pulu tegteg merupakan pelangkiran yang diletakkan di dapur yang dimana memiliki makna sebagai tempat memuja dewa kemakmuran. Tujuan dari meletakkan isi pagu di pulu tegteg adalah untuk mensejahterakan ekonomi dalam keyakinan Desa Pujungan.
“Pulu tegteg sebagai tempat suci dan simbol keberkahan serta kemakmuran. Dengan meletakkan isi dari pagu di pulu tegteg di rumah masing-masing, masyarakat Desa Pujungan diharapkan dapat meraih keberkahan dan kesejahteraan ekonomi,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna