KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Pemerintah Indonesia akan memberikan penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada 6 orang tokoh yang berjasa bagi bangsa dan negara di Indonesia. Yang bikin merinding, salah satu dari 6 tokoh itu adalah tokoh asal Kabupaten Klungkung, Bali, yakni Ida Dewa Agung Jambe.
Ida Dewa Agung Jambe akan dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional tepat pada hari Pahlawan, tanggal 10 November 2023 di Istana Negara, Jakarta.
Seperti yang telah diketahui Ida Dewa Agung Jambe adalah raja Kerajaan Klungkung. Beliau gugur saat Perang Puputan Klungkung 28 April 1908 silam.
Panglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semaraputra, mengungkapkan bahwa pihaknya saat bersyukur atas gelar Pahlawan Nasional yang akan dinobatkan kepada Raja Klungkung tersebut. “Kami bersyukur dan senang sekali. Serta mengucapkan terima kasih kepada semua pihak seperti Kadis Sosial Klungkung, Bupati Klungkung, Kadis Sosial Provinsi Bali, Gubernur Bali, kemudian Kementerian Sosial, tim pemberian tanda jasa dan semua pihak yang sudah mendukung pengusulan ini sehingga beliau bisa ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” paparnya Rabu (8/11).
Terlebih hal ini sudah pihaknya tunggu-tunggu sejak tahun 2001 lalu. Dimana pengajuan Ida Dewa Agung Jambe menjadi pahlawan nasional sebelumnya sempat masuk antrean.
Sebab menurut Ida Dalem, Ida Dewa Agung Jambe tidak hanya sebatas memimpin masyarakat sebagai Raja Klungkung saja, namun lebih dari itu Ida Dewa Agung Jambe adalah sosok yang tangguh dan berani. Utamanya dalam membela tanah air, dan memperjuangkan kedaulatan.
Puncak perjuangan Ida Dewa Agung Jambe adalah Ketika Kerajaan Klungkung sebagai pusat kerajaan di Bali menjadi wilayah yang belum bisa ditaklukkan oleh Kolonial Belanda. Saat itu colonial menggelar patrol keamanan di wilayah Kerajaan Klungkung yang membuat para petinggi kerajaan dan masyarakat tidak terima karena dinilai melanggar kedaulatan kerajaan.
Akhirnya masyarakat di wilayah Gelgel pun melakukan penyerangan terhadap tentara kolonial. Namun Belanda tidak terima dengan serangan tersebut sehingga Kerajaan Klungkung diultimatum untuk menyerah paling lambat 22 April 1908.
Sayangnya ultimatum itu tidak dihiraukan oleh Ida Dewa Agung Jambe. Sampai akhirnya pada 21 April 1908 pasukan kolonial Belanda berlabuh di Pantai Desa Jumpai dan membombardir wilayah Desa Gelgel dan sekitarnya. Masyarakat yang bersenjatakan keris dan tombak pun tak mau tinggal diam. Mereka melawan sampai-sampai pasukan lawan kewalahan. Namun serangan pasukan Klungkung baru bisa dipatahkan setelah 6 hari pertempuran.
Bukannya menyerah, Belanda justru kembali mengirim pasukan ke Klungkung sampai akhirnya berhasil mengepung istana Kerajaan Klungkung. Puncaknya pada 28 April 1908 pasukan Belanda berhasil merangsek masuk tepatnya di depan Pamedal Agung. Rakyat Klungkung berpakaian putih pun berperang habis-habisan (Puputan) dipimpin Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe bersama seluruh keluarga puri. Bahkan putra mahkota saat itu yang masih anak-anak Ida I Dewa Agung Gede Agung ikut bertempur namun harus gugur.
Begitu juga dengan Ida Dewa Agung Jambe yang akhirnya gugur setelah melaksanakan Dharmaning Ksatria yakni kewajiban tertinggi seorang ksatria sejati dengan keluar istana dan ikut bertempur bersama rakyat.
Disisi lain, salah satu tokoh pemuda dari Puri Agung Klungkung, Tjokorda Istri Agung Putri Gitaloka juga mengaku bangga atas gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada leluhurnya. “Tentunya hal ini membuat saya dan keluarga bangga karena perjuangan beliau memimpin pasukan Klungkung dalam peperangan patut kita teladani terutama kita generasi muda,” tegasnya. (*)