Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Korban Gigitan Anjing Sulit Dapatkan VAR, Begini Kata Kadinkes Gianyar

I Wayan Ananda Mustika Putra • Senin, 13 November 2023 | 23:47 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar Dra Ni Nyoman Ariyuni
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar Dra Ni Nyoman Ariyuni

GIANYAR, BALI EXPRESS - Sejumlah korban gigitan anjing mengeluh kesulitan mendapatkan suntikan VAR (vaksin Anti rebies). Meskipun sudah diburu ke beberapa rumah sakit, hasilnya nihil.

 

“VAR katanya kosong di beberapa rumah sakit,” ujar warga.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar Dra Ni Nyoman Ariyuni saat dikonfirmasi mengatakan stok VAR saat ini memang terbatas. VAR hanya disuntikkan pada kasus gigitan yang terindikasi rabies. “Bukan kosong, tapi langka,” jelasnya, Senin (13/11).

 

 

Tidak hanya di Gianyar, stok VAR katanya langka di seluruh Bali. Pemberian VAR saat ini lebih selektif, mengingat vaksinasi terhadap hewan penular rabies (HPR) sudah gencar dilakukan. VAR hanya diberikan pada kasus gigitan yang HPR nya dinyatakan positif rabies berdasarkan ciri-ciri khas dan diperkuat dengan hasil laboratorium. “Kalau anjing yang menggigit positif rabies, kami pastikan pasti tertangani,” tegasnya.

 

Ada standar operasional prosedur (SOP) yang diterapkan tiap kali fasilitas kesehatan didatangi pasien gigitan anjing. Dengan demikian, Ariyuni mengajak masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. “Kita tata laksana sesuai SOP yang dibuat sudah berdasarkan penelitian. Kalau anjing mati, pasti semaksimal mungkin dapatkan vaksinnya,” jelas istri Camat Blahbatuh ini.

 

 

Kabar baiknya, Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar mencatat ada tren penurunan kasus gigitan anjing di bulan September 2023. Jumlahnya sebanyak 1.401 kasus, turun drastis dari kasus gigitan bulan sebelumnya Agustus sebanyak 2.165 kasus. Kasus gigitan terbanyak terjadi di bulan Juli sebanyak 2.905 kasus. Sementara bulan sebelumnya, jumlah kasus tiap bulan di kisaran ratusan kasus.

 

“Tidak semua gigitan anjing mengandung virus rabies. Gigitan oleh anjing yang telah terawat dengan baik, dikandangkan, sudah memperoleh vaksin lengkap, tidak membutuhkan vaksin Anti rabies. Gigitan terjadi biasanya karena provokasi seperti anjing dipakai mainan diganggu saat makan anjing beranak dan lainnya,” jelasnya.

 

 

Kepada korban gigitan anjing, Ariyuni menyarankan untuk datang ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yaitu tata laksana perawatan luka. “Sebagai petugas kesehatan, pasien akan tetap disarankan agar ada observasi kesehatan anjing sampai hari ke 14 sebagai upaya deteksi, bukan menunggu anjing mati,” terangnya.

 

Pihaknya pun berharap masyarakat memberikan informasi yang jujur kepada petugas kesehatan. Sebab petugas membutuhkan keterangan yang benar terjadinya kasus gigitan anjing, kepemilikan anjing yang menggigit lokasi gigitan vaksinasi anjing perilaku anjing dan lainnya.

 

 

Ditambahkannya, pada dasarnya masyarakat bisa mengetahui dengan cermat tanda-tanda pada hewan penular rabies dan dengan pemberdayaan masyarakat bersama-sama bisa melakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit rabies. Masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan akan bahaya rabies. Caranya, binatang peliharaan agar rutin vaksin selalu mengikat atau mengandangkan dan tidak melepas liarkan. Bila terjadi gigitan anjing atau kucing atau kera walaupun sedikit luka agar datang ke puskesmas terdekat untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

 

“Berikanlah informasi yang benar kepada petugas kesehatan sehingga petugas dapat memberikan penanganan luka yang sesuai dengan standar kesehatan,” sarannya.

 

Lebih lanjut Ariyuni menjelaskan, jika terjadi kasus gigitan anjing masyarakat agar melakukan penanganan pertama dilakukan tatalaksana cuci luka dengan sabun atau deterjen pada air mengalir selama 10-15 menit. Selanjutnya melakukan tatalaksana penanganan luka dengan antiseptic seperti alkohol 70%, betadine, atau lainnya. “Tanpa VAR dan tentu dibantu dengan pemantauan anjingnya,” jelasnya.

 

 

Dalam pemantauan tersebut, jika ditemukan ada indikasi atau dicurigai tanda-tanda anjing yang menggigit ke arah rabies, baru bisa korban diberikan VAR. “Indikasi ini dikoordinasikan dengan puskeswan dalam pemantauan kondisi anjing. Jadi tidak semua kasus gigitan memperoleh VAR,” tegasnya.(*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #stok #rabies #gianyar #gigitan anjing #dinkes gianyar #var