Seperti diketahui, Niluh Djelantik merupakan mantan kader Partai Nasdem yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI dari Bali yang akan bertarung pada Pemilu 2024 mendatang.
Baca Juga: Netralisir Aura Negatif, Warga Sangkanbuana Gelar Upacara Ngider Buana
Perempuan yang akrab disapa Mbo Niluh itu memang dikenal sangat vokal dalam menyuarakan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan rakyat Bali.
Namun kali ini Niluh Djelantik buka suara soal warganet yang menduga dirinya sudah bergabung dengan partai besutan Megawati Soekarnoputri itu. Dugaan ini bermula kala Niluh Djelantik kerap kali menggunakan kebaya berwarna merah dalam berbagai acara. Bahkan poto profil di Instagramnya juga menggunakan kebaya merah.
Dugaan Niluh Djelantik sudah merapat ke Partai Banteng itupun semakin mencuat kala dirinya terang-terangan mendukung pasangan Capres dan Cawapres Ganjar Pranowo dan Mahfud MD. Dukungan itu kerap ia sampaikan melalui unggahan di media sosial Instagramnya.
Menjawab soal dugaan tersebut, Niluh Djelantik mengungkap bahwa merah merupakan salah satu warna kesukaannya. Bahkan kebaya pernikahannya pun menggunakan warna merah.
“Seluruh UMKM, penenun di Bali pasti tahu warna kesukaan Mbo itu merah. Selain itu ada putih, kuning, hijau, dan hitam disesuaikan dengan acara yang Mbo hadiri,” ungkap Niluh melalui podcast Jeg Bali, Minggu (26/11).
Baca Juga: Penggemar Bunga Citra Lestari Kecewa, Ramai-Ramai Tulis Komentar Sindiran
Meski tidak menjawab secara gamblang pertanyaan apakah Niluh Djelantik masuk PDIP atau tidak, namun ia menegaskan bahwa dirinya tetap menjaga hubungan baik dengan partai-partai politik yang ada. Bahkan ia pun menegaskan bahwa partai politik apapun yang berada dibelakangnya, ia akan tetap tegak lurus bersama rakyat.
“Mbo ngayah untuk Bali, bekerja dan mengabdi untuk Bali dan Mbo bisa lakukan itu tanpa masuk ke satu partai politik manapun karena yang kita suarakan seluruh aspirasi rakyat Bali,” imbuhnya.
Meski begitu, pengusaha sepatu itu mengatakan tetap menjaga hubungan baik dengan partai politik yang ada karena mereka ibarat rumah yang didalamnya memiliki penghuni.
“Mungkin ada satu atau dua orang penghuni rumah itu yang tidak sesuai dengan harapan orang di luar rumah, kita focus ke orangnya bukan ke partainya,” jelas Niluh Djelantik.
Editor : Wiwin Meliana