DENPASAR, BALI EXPRESS - Polresta Denpasar akhirnya mengungkap penyebab kematian mahasiswa perhotelan Aldi Sahilatua Nababan pada Rabu (13/12).
Meski pihak keluarga heboh menyebut ada dugaan dibunuh, tetapi kesimpulan akhir, pemuda itu memang bunuh diri di kosnya, kawasan Benoa, Kuta Selatan, Badung.
Kapolresta Denpasar Kombespol Bambang Yugo Pamungkas, didampingi Bid Labfor Polda Bali, Forensik RSUP Prof Ngoerah dan RS Bhayangkara Medan, pun membeberkan hasil pemeriksaan mereka masing-masing. Bambang menerangkan, pihaknya sudah melakukan penyelidikan dan memeriksa 19 orang saksi termasuk dari pihak keluarga.
"Kesimpulan (kematian) sesuai rangkuman terkait kondisi jenazah, hasil visum, autopsi, latar belakang, serta temuan di TKP. Kami melakukan olah TKP ulang ditemukan galon sebagai pijakan kaki untuk gantung diri dan juga tali, tali itu terpantau dia dibeli di toko bangunan," ujar Kapolresta. Kamar kos Aldi juga terkunci dari dalam. Hanya ada akses masuk berupa pintu dan jendela di depan.
Lantaran kamar itu berada di lantai satu dan langit-langit kamarnya full menggunakan beton (dak). Sehingga, kecil kemungkinan ada orang lain yang bisa masuk. Sementara itu, Ahli Forensik RSUP Prof Ngoerah dr. Dudut Rustyadi menjelaskan, pihaknya menerima jenazah Aldi Sahilatua Nababan pada 18 November 2023, sekitar pukul 11.20.
Lalu dilakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah. Hasilnya, tubuh korban sudah dalam keadaan membusuk. "Terlihat tanda tanda pembusukan berupa perubahan warna kulit, ada yang merah kehitaman atau kehijauan, kemudian di beberapa bagian tubuh kulit arinya sudah mengelupas, ada pembengkakan dari wajah, bibir, lidah menjulur, mata melotot," ucapnya.
Pembusukan disertai pembengkakan juga terjadi pada kantong zakar dan keluar cairan berwarna merah kehitaman dari hidung dan mulut yang merupakan proses pembusukan tersebut. Berikutnya, ditemukan ada luka lecet tekan yang melingkari leher, dengan arah miring dari kanan bawah ke kiri atas.
"Artinya kemungkinan simpul di sebelah kiri, dari arah tersebut menunjukkan bahwa yang aktif adalah berat badannya, jadi bukan talinya, dari kedokteran forensik kalau tali aktif itu biasanya talinya mendatar, pada kasus mati gantung itu, yang aktif adalah berat badan, sehingga menunjukan arah miring," tambahnya. Dia tidak menemukan luka lainnya pada tubuh Aldi.
Perkiraan waktu kematian pemuda asal Tapanuli Utara, Sumatera Utara itu berdasar proses pembusukan diduga sekitar kurang lebih dua hari. Hal itu diperkuat dengan hasil Autopsi di RS Bhayangkara Medan. Ahli Forensik RS Bhayangkara Medan dr Ismurizzal memaparkan, pihaknya sudah lakukan autopsi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Jenazah Aldi memang sudah mengalami pembusukan dan sudah diformalin. Dari hasil autopsi, Ismurizzal hanya menjumpai jejas tali yang melingkar pada daerah leher dan terdapat daerah yang kosong pada telinga kiri seperti hurup V terbalik. Artinya di sana terdapat ikatan dari jejas tali tersebut.
Pihaknya tidak menemukan ada tanda tanda kekerasan selain dari jejas tersebut. Terkait buah zakar yang sempat disebut pihak keluarga rusak, juga sudah diperiksa. Dokter sudah membuka buah zakar Aldi dengan cara disayat dan didapati jumlahnya lengkap. Tidak ada tanda kekerasan.
"Artinya, itu (buah zakar) berisi gas gas pembusukan, tidak dijumpai tanda kekerasan, jadi dari semua pemeriksaan itu kami berkesimpulan bahwasanya korban meninggal akibat mati gantung," pungkasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana