Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Festival Film Kemanusiaan, Ruang Ekspresi dan Renungan Realitas Kemanusiaan

Dian Suryantini • Selasa, 19 Desember 2023 | 02:37 WIB
Diskusi usai pemutaran film di mini bioskop, Mash Denpasar.
Diskusi usai pemutaran film di mini bioskop, Mash Denpasar.

 

BULELENG, BALI EXPRESS - Festival Film Kemanusiaan Tahun 2023, yang diselenggarakan oleh Yayasan Kini Media (Minikino), telah sukses menyajikan serangkaian karya sinematik yang memotret kedalaman sisi kemanusiaan. Pada 15-16 Desember 2023, Mash Denpasar menjadi tempat pemutaran film dari Palestine Film Institute (PFI) dan Indonesia, mengundang penonton untuk merenung tentang eksistensi dan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Salah satu sorotan utama festival adalah film dokumenter "Ambulance" karya Mohamed Jabaly dari Norwegia, Palestina.

 

 

Dengan durasi 80 menit, film ini menghadirkan sudut pandang orang pertama tentang perang di Jalur Gaza pada musim panas 2014.

 

Jabaly, yang bergabung dengan kru ambulan, membawa penonton terlibat langsung dalam situasi yang penuh ketegangan dan keputusasaan. Sebuah kisah nyata yang memperlihatkan keberanian dan kelemahan manusia di tengah konflik yang melanda.

 

 

Ahmad Fauzi, Direktur Festival Film Kemanusiaan mengatakan, selain sebagai bentuk hiburan, Festival Film Kemanusiaan berfungsi sebagai wahana edukasi. Film-film yang diputar tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga memberikan informasi berharga tentang kondisi manusia di berbagai belahan dunia.

 

“Melalui keberagaman tema dan sudut pandang, festival ini menciptakan ruang dialog mendalam, mengundang penonton untuk memahami pengalaman kemanusiaan dari berbagai perspektif,” ujarnya, Senin (18/12) saat berada di Buleleng.

 

Film dokumenter lainnya, "You and I" karya Fanny Chotimah, berdurasi 72 menit, mengisahkan kisah dua sahabat, Kaminah dan Kusdalini, yang menjadi tahanan politik. Meskipun berada di dalam penjara, keduanya menunjukkan keindahan dan konsistensi hubungan yang berlangsung selama lebih dari setengah abad, memberikan perspektif romantis pada kenyataan pahit.

 

 

 

Festival ini juga memberikan platform bagi sutradara perempuan seperti Wulan Putri, yang melalui Trilogi Awyu, menyajikan dua film tentang realitas yang mungkin terabaikan. "Mama Lihat Awan Jatuh" dan "Asu Pemige, Sawa Pemige" membahas kerasnya kehidupan dan alih fungsi lahan, terutama terkait dengan konflik sawit yang menggusur tanah adat.

 

 

Ahmad Fauzi, menegaskan festival ini bukan hanya tentang pemutaran film, tetapi juga perayaan kehidupan dan kepedulian terhadap sesama. Dalam setiap frame, festival ini memberikan cerminan kemanusiaan yang merajut benang kehidupan manusia dalam segala kompleksitasnya.

 

 

 

“Festival Film Kemanusiaan menjadi bukti bahwa seni film memiliki kekuatan untuk mempersatukan masyarakat dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas kemanusiaan,” ungkapnya. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #festival film #karya #yayasan #buleleng #sinematik