Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lalu Lintas ke Bandara Ngurah Rai Bali Macet Parah, Pelaku Pariwisata Sebut Solusi dari Pemerintah Hanya Wacana

Rika Riyanti • Minggu, 31 Desember 2023 | 14:40 WIB
Kepadatan di jalan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Sabtu, 30 Desember 2023.
Kepadatan di jalan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Sabtu, 30 Desember 2023.

BADUNG, BALI EXPRESS- Kemacetan yang terjadi di jalan akses sekitar Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada Jumat, 29 Desember 2023 di luar ekspektasi sebagai penutup tahun 2023.

Kemacetan ini diduga karena banyaknya kendaraan luar pulau yang masuk Bali, sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan arus lalu lintas terutama di pusat-pusat kepariwisataan seperti Kuta, Jimbaran, Seminyak, Canggu dan sebagainya. Ketua ASITA Bali Putu Winastra melihat kemacetan itu terjadi karena fasilitas lalu lintas yang tidak sesuai serta kurangnya petugas di sejumlah titik kemacetan.

“Selain itu, ego pengendara yang saling ingin mendahului, maka terjadilah stuck di mana-mana. Nah ini satu stuck rembetannya kemana-mana,” jelas Winastra saat dihubungi Sabtu, 30 Desember 2023.

Pemerintah, tegas Winastra, harus benar-benar memikirkan terkait kemacetan ini. Pun tidak hanya kemacetan, sampah juga dikatakannya masalah turun-temurun yang belum bisa diatasi dan solusi-solusinya masih sekadar wacana.

“Kami dari industri mendorong pemerintah lebih banyaklah memberi perhatian terhadap infrastruktur pariwisata karena bagaimanapun juga Bali hidupnya dari pariwisata,” ucap Winastra.

“Jangan sampai hanya berbicara pariwisata tetapi justru tidak ada action terkait dengan fasilitas-fasilitas yang memang diperlukan terkait kepariwisataan ini. Misalnya, wacana ada LRT (light rail transit) kapan? Kita tidak tahu,” tambah pelaku parwisata asal Bangli itu.

Selain rencana pembangunan LRT, pihaknya juga membahas soal jalan layang atau fly over.

Jika pembangunannya bersinggungan dengan adat dan budaya Bali, maka bisa dibicarakan bersama para sulinggih, MDA, PHDI sehingga dapat dicarikan solusi. 

Bali ini, menurut dia, harus berbenah. Jangan sampai dininabobokkan dengan berbagai penghargaan yang dicapai Bali, padahal faktanya kemacetan dan sampah masih menjadi momok.

“Sebenarnya kalau berbicara macet, sudah sering. Tetapi tadi malam ini membawa dampak yang sangat tidak bagus, seperti para penumpang yang tidak bisa ke airport sampai akhirnya jalan kaki takut ketinggalan pesawat. Ini kan membawa dampak buruk terhadap destinasi,” katanya. 

Namun dari sisi industri, ia mengungkapkan, kemacetan itu menjadi sebuah isu yang bagus, sehingga para pejabat menyadari ada sesuatu yang salah di Bali dan perlu diperbaiki.

Selama ini, pelaku pariwisata berkoar-koar menyampaikan kemacetan dan sebagainya tetapi pejabat hanya bergeming.

“Dengan adanya kejadian kemarin sampai viral begitu, mudah-mudahan bisa didengar sampai pejabat di pusat,” cetusnya.

Disinggung terkait tiket pesawat yang mahal menjadi alasan wisatawan domestik membawa kendaraan pribadi, pihaknya mengatakan ada dua poin yang menjadi alasan.

Pertama, karena tiket pesawat dan kedua karena aksesibilitas. “Coba sekarang kalau sekeluarga 4-5 orang, berapa dia saving cost? Misal beli tiket pesawat PP per orang Rp3 juta, jadi Rp15 juta, itu baru pesawat saja. Kalau dia bawa mobil, kan tidak sampai dia ke Bali ngabisin Rp15 juta,” paparnya.

Diakuinya, pihaknya tidak terlalu khawatir semisal apa yang terjadi kemarin segera dicarikan solusi.

Namun, jika tidak dicarikan solusi dan terus-menerus Bali diselimuti kemacetan, pihaknya takut Bali akan kehilangan wisatawan karena merasa tidak nyaman lagi.

“Buat apa mereka jauh-jauh dari Eropa misalnya, sampai di Bali dia mau kemana-mana harus berjam-jam,” tandasnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Pelaku pariwisata #bandara ngurah rai #kemacetan