Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Perang Lumpur Festival Air Suwat Sambut Tahun 2024

I Wayan Ananda Mustika Putra • Senin, 1 Januari 2024 | 01:38 WIB
Krama Desa Adat Suwat melakukan permainan tradisional di dua petak sawah yang berlumpur, Sabtu (30/12).
Krama Desa Adat Suwat melakukan permainan tradisional di dua petak sawah yang berlumpur, Sabtu (30/12).
 
 
GIANYAR, BALI EXPRESS - Perang Lumpur serangkaian Festival Air Suwat diselenggarakan pada Sabtu (30/12) sore.
 
Ratusan Krama lanang istri, tua muda berduyun-duyun memadati lokasi acara di dua petak sawah yang penuh lumpur. Beragam permainan tradisional dipertandingkan sebut saja nyuun jun berisi air, tarik tambang, lari upik, nangkap bebek hingga gebug bantal yang seluruhnya dilakukan diantara lumpur.
 
 
Bandesa Ageng Desa Adat Suwat Ngakan Putu Sudibya menjelaskan Festival Air Suwat ke 9 ini mengagendakan 3 kegiatan. Pertama perang lpur, kedua mendak tirta, terakhir Siat Yeh atau perang air. “Kita memang ingin membangun sebuah budaya yang berkaitan dengan pengembangan kearifan lokal kami,” jelasnya.
 
 
Sejak gelaran pertama, FAS memang memilih air sebagai tema utama. “Sejak awal Festival ini rohnya adalah air. Jadi kami berusaha tetap menjaga semua ritual yang berhubungan dengan air,” terangnya. Termasuk Perang Lumpur yang menggunakan media air. Peserta perang Lumpur diikuti oleh Krama desa adat Suwat dan warga sekitar. Ada juga wisatawan yang kebetulan berkunjung ke Suwat Waterfall, tertarik untuk ikut serta.
 
 
 
 
 
Bagi Dibya, perang Lumpur ini ibarat nostalgia dengan permainan masa kecil yang dilakukan di sawah. “Ini permainan kami waktu kecil, kami ingin tetap terjaga dengan melakukan perbaikan-perbaikan sehingga menjadi menarik untuk ditonton,” terangnya.
 
Bendesa menegaskan bahwa perang lumpur ini sebagai upaya mempertahankan tradisi lama. “Desa Suwat ini merupakan desa agraris. Penduduknya dominan jadi petani yang punya lahan sawah, biasanya saya waktu kecil terbiasa main lumpur di sawah,” ungkapnya.
 
 
Untuk diketahui, rangkaian FAS selanjutnya adalah mendak tirta situal suci di Pengelukatan Siwa Melahangge. Tirta suci ini digunakan sebagai sarana atau simbol ruwatan pada Masya saat Siat Yeh berlangsung pada awal Tahun 2024 nanti, Senin (1/1). “Kami nunas tirta suci di pengelukatan Siwa Melahangge, sebagai sarana untuk melakukan perang air,” terang mantan jurnalis ini.
 
 
 
 
Perang air ini sendiri dimaknai sebagai ruwatan atau pembersihan diri masyarakat dari aura negatif tahun sebelumnya menuju energi positif di tahun yang baru. “Agar kita senantiasa semakin kuat menghadapi tantangan ke depan yang semakin berat,” imbuhnya.
 
 
Tahun ini FAS didesain lebih sederhana dengan lebih banyak melibatkan tokoh tokoh lokal. Tahun ini juga pelaksana atau kepanitiaan FAS sepenuhnya para yowana yang berasal dari tiga Banjar adat di desa adat Suwat.
 
 
Sudibya menjelaskan desa adat tahun ini menyerahkan sepenuhnya penyelenggaraan FAS kepada para yowana di ketiga Banjar adat. Tujuannya jelas yakni memberi pengalaman kepada para yowana bagaimana menggelar even dengan berbagai kendala yang ada.
 
 
 
 
 
Lagipula mereka ini adalah generasi generasi emas atau generasi z yang nantinya akan bersaing di era global untuk menuju Indonesia emas tahun 2045. “Kami ingin mereka bisa keluar menjadi pemenang di era global. Kita mulai dari hal hal kecil untuk menuju mimpi mimpi besar tahun 2045,”tegasnya.
 
 
 
 
Bonus demografi yang akan didapat Indonesia tahun 2030-2035 harus dimaknai sebagai sebuah lompatan untuk menjadi pemenang bukan pecundang.
 
 
 
 
Ia sangat berbangga dengan generasi muda Suwat yang selalu mau belajar dan bekerja keras untuk kepentingan desa. “Semoga ke depan yowana ini menjadi orang-orang besar dan berhasil di berbagai bidang,” ujarnya.
 
 
 
Ketua panitia FAS Putu Bayu Laksana menambahkan FAS tahun ini akan memfokuskan pada tiga kegiatan pokok yakni jalan santai sambil bersih-bersih lingkungan, perang lumpur dan perang air. “Kami mengundang semua orang untuk datang dan mengikuti semua kegiatan yang ada. Puncak acara yakni perang air atau siat yeh akan digelar 1 Januari 2024 di catus pata desa adat suwat sekitar pukul 13.30 WITA,” jelasnya.(*)
 
Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #perang lumpur #krama #gianyar #desa adat #Siat yeh