Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Potongan Tubuh Korban Mutilasi Serayu Malang Akan Diupacarai Secara Hindu

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 2 Januari 2024 | 15:26 WIB

 

BERDUKA : Rumah orang tua Ni Made Sutarini di Banjar Banda, Desa Takmung, Klungkung, Bali.
BERDUKA : Rumah orang tua Ni Made Sutarini di Banjar Banda, Desa Takmung, Klungkung, Bali.

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Kabar mengenai meninggal dunianya Ni Made Sutarini, 55, setelah dibunuh lalu dimutilasi oleh sang suami, James Lodewyk Tomatala, 61, di Jalan Serayu, Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (30/12), membuat keluarganya di Banjar Banda, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali, syok.

 


Bahkan sang ibu, Nyoman Weni yang usianya sudah tidak muda lagi terus menangis. Dan untuk menangani jenazah korban, adik laki-laki korban bersama kerabatnya berrencana akan terbang ke Malang, Selasa (2/1). Terlebih jenazah korban rencananya akan dikremasi langsung di Malang dengan bantuan PHDI Malang. “Hari ini adik korban akan berangkat ke Malang, dan jenazah korban akan dikremasi serta diupacarai secara Hindu. Karena infonya anak laki-lakinya korban sudah meminta izin ke ayahnya biar jenazah ibunya diupacarai secara Hindu. Karena setelah menikah memang korban ikut agama suaminya (Kristen),” ungkap Bendesa Adat Takmung, I Made Wista yang dikonfirmasi Selasa (2/1).

 

 

 


Ni Made Sutarini, 55, dibunuh kemudian dimutilasi oleh suaminya Jimmy Lodewyk Tomatala, 61, di Jalan Serayu, Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (30/12). Korban dimutilasi menjadi 10 bagian dan potongan tubuh korban dimasukkan ke dalam ember. Setelah membunuh sang istri dengan keji, pelaku pun menyerahkan diri kepada pihak kepolisian.

 


Lebih lanjut, Wista menuturkan jika korban sebelum menikah memang warga di Desa Adat Takmung namun kini sudah menikah dengan suaminya yang orang Manado. “Ya memang dulu warga disini tapi sudah menikah dengan orang Manado (pelaku) itu pensiunan PLN dan tinggal di Malang. Kalau dia (korban) setahu saya ibu rumah tangga,” imbuhnya.

 

 

Baca Juga: Tari Sanghyang Sampat, Tarian Sakral di Desa Lembongan Nusa Penida sebagai Penolak Bala

 


Wista sendiri tidak ingat kapan korban menikah dengan sang suami namun ia memperkirakan sudah 30 tahun yang lalu. Sebab anak dari korban dan pelaku saat ini usianya sudah sekitar 30 tahun. “Korban punya anak dua, pertama cewek kerja di Singapura yang kedua cowok kerja di Bali,” imbuhnya.

 


Karena bekerja di Bali ini lah anak laki-laki korban cukup sering berkunjung ke rumah asal Ibunya di Banjar Banda. Korban sendiri merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Korban memiliki satu orang kakak perempuan dan satu orang adik laki-laki. Sedangkan ayah korban sudah meninggal dunia. Keluarganya di Bali mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum korban dikabarkan meninggal dunia secara tragis.

 

 


Kepala keluarganya, korban mengaku akan pulang ke Bali pada tanggal 3 Januari 2024, lantaran pada tanggal 5 Januari 2024 akan digelar upacara Ngaben dari sepupu korban yang meninggal dunia. “Kebetulan sepupunya ada yang meninggal dan tanggal 5 mau diaben, katanya dia (korban) mau pulang. Tapi tiba-tiba ada kabar dari Malang kalau dia meninggal dunia dengan agak sadis (dimutilasi),” tandasnya. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#malang #bali #istri dimutilasi #syok #kremasi #keluarga korban #klungkung #mutilasi