KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Prosesi pengabenan dari Ni Made Sutarini, 55, korban mutilasi oleh sang suami, ditelah dilaksanakan di Malang, Jawa Timur, Rabu (3/1). Jenazah ibu dua anak itu diupacarai secara Hindu.
Kakak dan adik kandung dari Sutarini, yakni Ni Wayan Suarini dan Komang Suardana pun telah berangkat ke Malang membawa tirta dari sanggah dan Pura Kawitan untuk upacara pengabenan Sutarini.
"Informasi tadi pengabenan sudah dilakukan pukul 08.00 Wita tadi," ujar seorang kerabat dari Made Sutarini, I Wayan Merta saat ditemui di kediamannya di Banjar Banda, Desa Takmung, Klungkung, Bali.
Menurutnya setelah menikah dengan James Lodewyk Tomatala, Sutarini memang memeluk agama kristen. Meskipun demikian, Sutarini sejak masih hidup sering berkata ke keluarganya agar diupacarai secara hindu jika terjadi sesuatu kepadanya.
"Dia juga masih sering melukat, sembahyang juga di sini. Sering bilang juga ke kerabat di Surabaya, kalau nanti meninggal agar minta tolong diaben," sebutnya.
Sebelum disepakati dilakukan proses pengabenan, sang suami sekaligus pelaku pembunuhan terhadap Sutarini telah memberikan surat kuasa. Dimana pada surat kuasa itu intinya memperbolehkan, Sutarini dapat diaben sesuai dengan upacara agama hindu.
"Jadi suaminya ini memberikan surat kuasa, kepada pihak keluarga kami untuk memproses upacara terhadap jenazah Sutarini secara Hindu, " tandasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana