Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ada di Buleleng Sejak 1902, Waterleiding dan Suido Syo Aliri Wilayah Kerajaan hingga Rumah Orang Kaya: Begini Keunikannya

Dian Suryantini • Sabtu, 6 Januari 2024 | 17:57 WIB
RESERVOAR: Reservoar jaman Belanda yang masih kokoh. Kini dikelola Perumda Tirta Hita Buleleng.
RESERVOAR: Reservoar jaman Belanda yang masih kokoh. Kini dikelola Perumda Tirta Hita Buleleng.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Air yang mengalir pada jaman dahulu masih murni. Dapat dinikmati langsung dari sumber mata air. Baik untuk kebutuhan konsumsi maupun rumah tangga.

Seiring waktu, air-air yang mengalir dari mata air hingga berlinang ke anak sungai mulai dilakukan pengelolaan.

Kendati masih manual, namun boleh dikatakan sudah lebih modern dari sebelumnya.

Pengelolaan air itu dilakukan sejak era penjajahan Belanda. Tahun 1902 pemerintah Belanda yang ada di Buleleng, membangun reservoir atau tempat penampungan air.

Lokasinya di Lingkungan Bantang Banua, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada Buleleng.

Di sana ada sebuah bangunan yang atapnya terbuat dari beton paten.

Pondasi hingga dinding bangunan dibuat dari tumpukan batu. Dari atas atas, bangunan ini memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter dengan kapasitas penampungan 180 kubik air.

Agus Budiawan yang kini bertugas menjaga reservoir itu mengatakan seluruh bangunan yang diperkirakan sejak 1902 itu tidak pernah mengalami kerusakan.

Bangunan reservoir itu masih utuh seperti awal dibangun dan tidak pernah berubah sedikit pun.

“Tidak pernah. Keropos pun cuma sedikit dan tidak pernah airnya merembes. Padahal bangunannya sudah lama sekali. Kalau keropos paling dipoles semen saja, tidak diapa-apakan lagi. Dan di luarnya kami hanya diperbaharui cat saja,” kata dia.

Saat itu, aliran air yang tertampung di Waterleiding (reservoir jaman Belanda) berasal dari reservoir yang ada di Desa Padangbulia.

Reservoir itu juga berangka tahun 1902.

Baca Juga: Cak Imin Jadi Target Roasting-an Kiky Saputri; Acara Desak Anies Berubah Jadi Klarifikasi Imin

Air yang ditampung di reservoir kemudian dialirkan melalui pipa-pipa perunggu berlapis yang kala itu digunakan.

Alirannya sampai ke seluruh wilayah Kerajaan Buleleng (kini menjadi kawasan Puri Buleleng hingga Peken Buleleng dan sekitarnya).

Tidak hanya itu, jaman itu aliran air juga dinikmati oleh para bangsawan atau orang-orang kaya dahulu. Sedangkan masyarakat biasa dapat mengambil air di kayoan atau Pancoran Buleleng.

“Ada juga yang mengambil langsung ke reservoir. Dulu air sampai meluap-luap, nah luapan air itu atau overflow bisa diambil oleh warga,” kata Agus.

“Dari saya kerja tahun 2007, tidak ada kelemahan dari bangunan reservoir ini. Dari dulu tidak berubah, begini-begini aja. Jaman itu, kata tetua saya, pasang saluran air mesti bayar Rp 150,” lanjutnya.

Pada jaman pendudukan Belanda industri air minum disebut dengan Waterleiding.

Pada tahun 1920-an saat pendudukan Jepang, industri air minum berkembang di Buleleng.

Jaman itu disebut dengan Suido Syo. Pada jaman itu juga dibangun satu reservoir yang letaknya berdampingan dengan reservoir jaman Belanda (Waterleiding).

Airnya berasal dari mata air di Kawasan Pangkung Dalem, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Kini dua reservoar itu di bawah asuhan Perumda Tirta Hita Buleleng. 

“Kalau yang satu lagi kapasitasnya lebih besar, 300 kubik. Itu tahun 1928 saat jaman Jepang,” ujar Agus sembari membersihkan rumput, Jumat (5/1) pagi.

Sejak 2007 Agus setia berteman dengan dua reservoir tua itu. Menurut Agus, kondisi bangunannya sangat kokoh, bahkan tidak tertembus oleh akar tunggang

Pernah suatu ketika ia ingin memasang seperangkat alat untuk menampung luapan air. Akan tetapi Agus tidak berhasil lantaran struktur bangunannya sangat kuat.

“Saya tidak bisa menembus bangunan jaman Jepang itu. Struktur bangunannya sangat kuat dan terkunci sempurna. Akhirnya sampai sekarang belum terpasang juga karena tidak bisa saya pasang. Bahkan pohon mangga yang dulu sangat besar pun akarnya mengalah, memilih tumbuh di samping bangunan daripada menembusnya. Sekarang pohonnya sudah mati,” ungkapnya.

Baca Juga: Papua Selamanya Bagian Integral NKRI: Perspektif Sejarah dan Kepatuhan Hukum

Seiring waktu, reservoir jaman Belanda itu tidak lagi menerima aliran air dari Padangbulia.

Aliran air dari Padangbulia disetop dan dialihkan ke reservoir baru di kawasan Desa Sambangan.

Selanjutnya, reservoir jaman Belanda itu dialiri air dari kawasan Pangkung Dalem, Gitgit dan kawasan Bangkiangsidem.

Hingga kini air dari Pangkung Dalem dan Bangkiangsidem memenuhi dua reservoir tua itu. Kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sukasada hingga ke kawasan Kota Singaraja.

Menurut Made Supriata, Kasubag Produksi Perumda Tirta Hita Buleleng, pipa-pipa perunggu berlapis itu sampai kini tetap bertahan.

Hampir 80 persen bangunan jaman penjajahan itu masih difungsikan. Ketahanan dan kekuatannya tidak diragukan lagi. Kendati demikian karena faktor usia, pipa-pipa itu juga mengalami kerusakan, seperti kebocoran.

Pun demikian, perbaikan dilakukan secara manual. Apabila hal itu terjadi, petugas mesti bekerja ekstra dan sabar.

“Pernah ada kerusakan dan susah sekali mau dipotong. Berat juga. Kami masih menanganinya dengan manual, karena tidak bisa kami lakukan dengan bor atau semacamnya karena ada aliran listriknya dan berhadapan dengan air. Paling besar pipa yang digunakan dengan ukuran 8 dim. Itu perunggu juga,” kata dia.

Editor : Nyoman Suarna
#Suido Syo #orang kaya #Waterleiding #rumah #buleleng