KARANGASEM, BALI EXPRESS – Nelayan di Banjar Dinas Pengalon, Desa Antiga Kelod, Manggis, Karangasem saat ini sedang dilema. Ditengah banyaknya hasil tangkapan ikan yang didapat, justru harga jual terlalu murah.
Kondisi ini membuat hasil yang mereka dapat tidak sebanding.
Salah satu nelayan, I Komang Suarnata mengungkapkan, hasil tangkapan sudah bagus sejak satu bulan terakhir. Puncaknya terjadi pada Rabu (10/1) dan Kamis (11/1). Dalam kurun waktu dua hari terakhir itu, hasil yang didapat hampir mencapai 2 ribu ekor ikan tongkol. “Kemarin (Rabu, Red) hasil tangkapan para nelayan disini melimpah. Saya sendiri mendapat 1.500 ekor, tadi pagi sekitar 200-an,” ujarnya, Kamis (11/1).
Namun dibalik itu, harga jual yang ia dapatkan sangat rendah. Yakni Rp 1000 per ekor. Itupun ia jual tidak di Kabupaten Karangasem, melainkan diambil oleh pengepul di Kusamba, Kabupaten Klungkung. “Ikan bisa di jual tapi dengan harga yang murah, bisa sampai Rp 700 per ekor. Ini sudah terjadi sejak satu bulan terakhir,” tandasnya.
Dengan situasi seperti ini, pihaknya mengaku hanya sedikit hasil yang bisa didapatkan. Pasalnya hasil penjualan hanya mampu untuk biaya operasional saja. Bahkan ia memilih untuk tidak melaut dua kali dalam satu hari ditengah situasi ini.
“Bayangkan saja, harga Rp 1000, sedangkan untuk beli bensin saja sudah habis, tidak ada yang dipakai ke dapur,” lanjutnya.
Besar harapannya dalam situasi seperti ini Pemerintah Kabupaten Karangasem hadir untuk mencarikan solusi para nelayan. Sehingga setidaknya para pencari nafkah di laut itu bisa tersenyum ketika musim tangkapan melimpah. “Bagusnya kan pemerintah hadir dalam hal ini untuk mencarikan solusi,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Karangasem, I Nyoman Siki Ngurah saat dikonfirmasi awak media tak menampik kondisi itu. Menurutnya, situasi seperti ini sudah rutin terjadi setiap tahunnya. Untuk mengatasi persoalan ini, ia mengaku tidak bisa sendirian.
“Kami sudah sempat berkeliling bertemu nelayan, ya memang ini persoalan terjadi setiap tahun ketika musim panen ikan, namun kami mencoba memberikan edukasi tentang bagaimana ikan tangkapan nelayan ini bisa diolah, sehingga harga ikan bisa tetap stabil,” imbuh Siki Ngurah. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana