SINGARAJA, BALI EXPRESS- Peningkatan infrastruktur di daerah sekitar Pura Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali telah diperbaharui.
Jalan menuju ke Pura Segara Rupek sepanjang 13 kilometer dari kini sudah dispal. Sudah mulus.
Proyek terakhir pengaspalan jalan menuju Pura Segara Rupek dilakukan sepanjang 9 kilometer.
Itu sudah sampai di titik parkir pura. Proses pengaspalan menggunakan campuran limbah plastik.
Perbekel Desa Sumberklampok Wayan Sawitra Yasa mengatakan, proyek ini bukan hanya memberikan kenyamanan perjalanan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mengurangi dampak sampah plastik.
Dengan perjalanan yang semakin lancar, waktu tempuh dari jalan raya menuju Pura Segara Rupek dapat diminimalkan menjadi sekitar 30 menit untuk roda empat dan 20 menit untuk sepeda motor.
“Jauh memang perbandingannya dengan dulu untuk menuju pura sampai 1-2 jam karena jalan rusak dan banyak batu besar,” ujarnya, Rabu, 17 Januari 2024.
Namun, perlu dicatat bahwa akses jalan ini terbatas hanya untuk kendaraan roda empat pribadi dan minibus hiace dengan kapasitas besar.
Kendaraan besar seperti bus dan truk tidak dapat melintas karena adanya pohon rindang yang tak boleh dipotong untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekitar.
“Perlu diingat juga lokasi pura di desa kami itu terletak di kawasan hutan negara, di Taman Nasional Bali Barat. Jadi pohon-pohon itu tidak boleh dipangkas hanya untuk kepentingan akses jalan. Jadi kami batasi kapasitas kendaraannya, mohon dimaklumi,” ungkapnya.
Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban, pihak terkait telah berkoordinasi dengan petugas Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
Upaya kerja sama pun akan dilakukan dengan masyarakat setempat, seperti Linmas dan pacalang.
Hal tersebut dilakukan untuk memastikan keberlanjutan lingkungan di sekitar kawasan hutan negara, mengingat sempat terjadi peristiwa perburuan liar beberapa waktu lalu.
“Kami sudah berkoordinasi dengan petugas di TNBB. Entah itu berpatroli atau bagaimana atau kah kami lakukan kerja sama dengan masyarakat dan aparat desa seperti linmas dan pacalang,” ungkapnya.
“Yang jadi kendala sekarang itu kan kami tinggal bersinggungan dengan kawasan hutan negara. Ini harus benar-benar diperhatikan agar sama-sama ikut menjaga kawasan agar tidak terjadi seperti sebelum-sebelumnya,” lanjut Sawitra Yasa.
Terpisah, Kepala TNBB Agus Ngurah Krisna mengatakan, petugas patroli di kawasan TNBB khususnya di Teluk Prapat Agung menuju Pura Segara Rupek mesti kerja ekstra.
Terlebih kini akses menuju kawasan pura sangat mudah. Pengawasan pun dilakukan tidak hanya pada akses utama, namun juga di beberapa titik di dalam hutan.
“Akses masuk di kawasan ini sangat terbuka. Bisa masuk dari mana saja. Akses utama sudah mulus, akses laut sangat dekat, akses dari rumah-rumah warga pun juga terbuka,” ungkap Agus.
“Jadi kami bekerja ekstra dengan melakukan pemantauan dan patrol juga di titik-titik tertentu. Karena yang kami jaga bukan hanya apa yang dilihat dalam bentuk hutan dan satwa ini, tetapi tanggungjawab kami kepada negara,” kata dia. (*)
Editor : I Made Mertawan