SINGARAJA, BALI EXPRESS – Permasalahan sampah menjadi salah satu hal yang disoroti Desa Baktiseraga, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.
Di desa ini sampah telah berhasil diolah menjadi pupuk, terutama sampah organik. Sementara sampah plastik di desa ini disetorkan ke bank sampah untuk didaur ulang kembali.
Warga di desa itu juga telah melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga. Petugas sampah pun mengambil sampah yang sudah terpilah untuk dibawa dan dikelola di TPS 3R.
Sayangnya, sampah sisa makanan masih belum dikelola dengan baik. Sejauh ini sampah sisa makanan masih menjadi satu dengan sampah organik.
Kepala Desa Baktiseraga, I Gusti Putu Armada mengatakan, sampah sisa makanan di Desa Baktiseraga kini akan dikelola dengan menggunakan metode sederhana.
Metode itu didapatkan dari kunjungannya ke Osaki, Jepang tahun 2023 lalu.
Kunjungan itu dilakukan lantaran Baktiseraga menjadi satu-satunya desa di Bali yang meraih penghargaan nasional Trophy Proklim Utama bidang Lingkungan Hidup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.
“Kami akan meniru pola itu. Tetapi pelan-pelan kami akan informasikan ke warga kami. Warga kami sudah melakukan pemilahan, tapi di Jepang sudah jadi 4 jenis pemilahan termasuk residu sisa makanan,” kata dia.
Pola yang akan diterapkan nantinya, pihak desa menyiapkan satu tong besar. Sisa-sisa sampah makanan dari rumah tangga dapat dibuang dalam tong tersebut.
Setelah itu sampah sisa makanan akan diolah dicampur dengan sampah organik untuk menjadi pupuk.
“Dari rumah sampah makanan itu ditampung di ember, nanti dibuang dalam tong. Jika sudah waktunya, sampah makanan itu difungsikan sebagai starter dalam pengolahan pupuk dari sampah organik. Jadi pupuk yang dihasilkan lebih bagus,” ungkapnya.
Kendati demikian, Desa Baktiseraga masih belum menemukan pola untuk mengolah sampah residu, seperti minyak jelantah, kain, popok, pembalut serta sampah-sampah yang tidak lagi dibutuhkan dalam proses pengomposan.
Sehingga sampah-sampah itu masih dibuang ke TPA.
“Di Jepang sampah residu di TPA itu hanya 6 persen. Sisanya telah terkelola dengan baik. Kami ingin meniru hal itu di sini. Tetapi balik lagi, tidak bisa kerja sendiri. Masing-masing harus punya peran,” kata dia.
Armada paham betul bahwa setiap ide, gagasan, dan program hanya akan mencapai kesuksesan jika didukung oleh strategi manajemen yang matang.
Perencanaan yang cermat, pengorganisasian yang efektif, penggerakan yang energik, pengawasan yang teliti, dan evaluasi yang jeli menjadi pondasi kuat yang memandu langkah-langkahnya.
Baginya, desa mandiri bukanlah sekadar impian kosong, tetapi sebuah realitas yang dapat dicapai melalui upaya bersama dan manajemen yang baik.
“Kalau semua unsur di desa sudah harmoni, saya yakin program kerja akan lebih mudah dijalankan,” ujarnya.
Editor : Nyoman Suarna