Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Atasi Penurunan Debit Air, PDAM Badung Bangun Sumur Pemanen Air Hujan

Putu Resa Kertawedangga • Sabtu, 24 Februari 2024 | 21:52 WIB
Dirut Perumdam Tirta Mangutama Kabupaten Badung I Wayan Suyasa.
Dirut Perumdam Tirta Mangutama Kabupaten Badung I Wayan Suyasa.

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Pesatnya pembangunan di Kabupaten Badung, Bali terutama di sektor pariwisata berdampak pada menurunnya debit air di sejumlah mata air.

Penurunan debit air ini berdampak pada produksi dan pendistribusian air dari Perumda Air Minum Tirta Mangutama atau yang lebih dikenal PDAM Badung.

Sehingga Perumdam Tirta Mangutama Badung pun telah mempersiapkan strategi penanganan. Salah satunya dengan membangun sumur pemanen air hujan. 

Direktur Utama Perumdam Tirta Mangutama Kabupaten Badung I Wayan Suyasa mengatakan, secara umum keluhan dari pelanggan sejatinya mulai berkurang.

Namun keluhan didominasi debit air yang berkurang. Hal ini disebutkan akibat adanya penurunan denit air di sumber air PDAM Badung.

“Di satu sisi debit air menurun, di sisi lain kebutuhan bertambah,” ujar Suyasa, Jumat, 23 Februari 2024.

Menurutnya, penurunan debit air ini terjadi di beberapa sumber air terutama di Badung bagian utara.

Ia mencontohkan sumber air di Sulangai atas yang sebelumnya mencapai 4 liter per detik kini hanya 1,45 liter per detik.

Kemudian di Tanah Wuk dari 28 liter per detik, kini turun menjadi 19 liter per detik.

Masih ada lagi di sumber air Gegeran, dari 4 liter per detik kini hanya 1,18 liter per detik. 

“Yang menyebabkan penurunan debit sumber air adalah perkembangan pembangunan. Kami tidak menampik pariwisata meningkatkan pendapatan, tapi lingkungan juga perlu dijaga. Pembangunan terus berkembang, tanah produktif terus berkurang. Resapan air berkurang,” ungkapnya. 

Perumdam Tirta Mangutama Kabupaten Badung pun berupaya mengatasi persoalan ini.

Suyasa memastikan telah mengambil sejumlah program guna mengurangi dampak penurunan kualitas lingkungan.

Program dimaksud seperti membuat sumur pemanen air hujan. Program ini telah dilaksanakan di Puspem Badung dengan dua sumur permanen air hujan yang memiliki kedalaman 32 meter.

“Ini agar air tidak sampai keluar. Ini sebagai sumur resapan. Target kami, tiap tahun terus kami lakukan. Kami mohon ke pemerintah daeah dan kerja sama dengan Politeknik Negeri Bali untuk program ini,” terangnya.

Fungsi sumur resapan ini, lanjutnya juga untuk mengurangi banjir. Jika lokasinya di hulu, sumur ini akan berfungsi menyimpan air tanah. Sementara, jika di pesisir dapat menyetop intrusi.

“Air laut sekarang sudah intrusi sampai Imam Bonjol. Intrusi makin parah. Pengambilan air bawah tanah harus berbanding lurus dengan penyimpanan air bawah tanah agar intrusi tidak makin meluas,” jelasnya.

Lebih lanjut Suyasa menjelaskan, pada tahun 2024 akan memaksimalkan pelayanan air di Badung selatan dan sekitarnya.

Menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya akan mengembangkan distribusi. Bahkan nantinya akan dibangun reservoar (tempat penampungan air) yang dibantu oleh Pemkab Badung.

“Lokasinya ada di Labuan Sait dan Puspem Badung,” imbuhnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#debit air #bali #sumur #badung