Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenang Sosok Pande Ketut Krisna; Kaos Barong Tercipta dari Ketidaksengajaan Hingga Kini Belum Punya Hak Paten

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 6 Maret 2024 | 15:58 WIB

Pande Ketut Krisna pencipta kaos Barong
Pande Ketut Krisna pencipta kaos Barong

BALI EXPRESS- Kaos Barong bagi industri pariwisata Bali, saat tidak saja hanya sebagai souvenir saja, namun merupakan satu produk identitas pariwisata Bali.

Karena bagi wisatawan yang datang ke Bali, belum sah rasanya jika berkunjung ke Bali tanpa membeli kaos Barong.

Ternyata bagi penciptanya kaos Barong yang saat ini sudah tersohor ke seluruh dunia ini, merupakan satu produk fashion yang tercipta karena ketidaksengajaan.

Seperti apa? Dalam mengenang pencipta Kaos Barong, Pande Ketut Krisna yang meninggal dunia pada Hari Umanis Galungan lalu, tepatnya Kamis (29/2) lalu, anak dari Pande Krisna, Pande Nyoman Yudi Sutrisna, bersedia membagi cerita seperti apa proses terciptanya Kaos Barong ini.

Menurut Pande Nyoman Yudi Sutrisna, ketika ditemui Rabu (6/3), kaos Barong pada awalnya tercipta dari sebuah ketidaksengajaan.

Baca Juga: Kabar Duka! Pande Ketut Krisna Pencipta Kaos Barong Tutup Usia

"Kaos barong itu ditemukan oleh ayah saya tanpa sengaja, saat sedang melakukan percobaan untuk warna kain Endek," jelas Pande Yudi.

Pande Yudi menyebutkan Kaos Barong tersebut ditemukan oleh ayahnya yang kelahiran tahun 1946 ini,  sekitar tahun 1969, dimana pada masa itu, Pande Krisna memang memiliki usaha tekstil dan mencoba untuk mengembangkan kreasi kain Endek Bali. Karena saat itu, warna kain Endek Bali maksimal hanya dua warna saja.

"Waktu itu, ayah saya sedang mencoba membuat kain Endek Bali agar kainnya warna-warni. Tadinya hanya dua warna, yakni warna dasar hitam dipadu biru, hitam dipadu hijau, coklat, dan sebagainya," lanjutnya.

Karena itu, Pande Krisna kemudian melakukan eksperimen untuk menciptakan warna yang lebih variatif.

Salah satu metode yang digunakan dalam eksperimen ini adalah metode celup benang tenun untuk menciptakan kain endek warna-warni. 

Hingga akhirnya terciptalah kain endek warna-warni ini., yang selanjutnya inovasi ini menghasilkan banyak warna atau catrian. Kain endek yang dulunya dua warna, kini menjadi 5 warna.

 Karena metode celup manual dirasa tidak maksimal, Pande Krisna dikatakan Pande Yudi terus melakukan inovasi untuk mempermudah proses pencelupan.

Baca Juga: Kursi DPRD Klungkung Diprediksi Didominasi PDIP, Kursi Demokrat Hangus

"Hingga akhirnya setelah mencoba banyak cara, ayah saya menemukan alat dan cara untuk menciptakan aneka warna pada kain endek, nama metode adalah Catrian. Penemuan inilah yang kemudian di kembangkan sehingga terbentuk baju barong di tahun 1969. Jadi tidak sengaja ditemukan baju barong dari catrian itu,"kenang Pande Yudi.

 

Desain Baju Sengaja di Buat Sederhana

 

Sejak pertama dibuat hingga hari ini, motif atau desain gambar baju barong diaku Pande Yudi memang sengaja dibuat sederhana. Tujuannya agar mudah dibuat. Lantas kenapa memilih Barong? Menurut Pande Yudi ayahnya sengaja memilih gambar Barong, karena saat itu, gambar barong yang paling gampang dibuat, tapi bukan barong ketet (ket).

"Bentuknya dibuat ayah saya dengan gambar yang paling sederhana, kalo gambar Barong Ket, susah, saat itu, ayah saya memilih untuk membuat yang gampang saja," terangnya.

Saat dibuat tahun 1969, kaos atau baju Barong dijual di berbagai obyek wisata seperti di Ubud dan Kuta. Dulu kaos barong dijual Rp 1.500 per potong dan laku keras. Karena penemuan baru, sehingga banyak permintaan.

Baca Juga: Empat Cabor Baru Resmi Gabung Jadi Anggota KONI Buleleng setelah Lolos Verifikasi dan Evaluasi

Bahkan diakui Pande Yudi, penjualan baju barong ini menjadi berkah tersendiri bagi keluarganya.

Karena penjualan Baju Barong ini mampu memajukan usaha tekstil yang milik ayahnya.

"Kata ayah saya, dulu tempat usaha kami kecil, berkah baju barong ini membuat ayah saya bisa mengembangkan usahanya. Karena baju barong ini sudah dijual ke berbagai negara, karena buatan tangan dan unik," ungkapnya.

Meski sudah dikenal keseluruh dunia, dan desain serta corak dari kaos Barong ini diciptakan oleh Pande Krisna, namun terhadap desain dari kaos Barong ini, ternyata tidak memiliki gak paten.

"Saya waktu itu tidak berpikir soal paten, saya punya pikiran, dua tahun sudah cukup. Anggota keluarga yang lain juga kita tularkan ilmu cara bikinnya, kita tidak bisa rahasia sama keluarga. Tapi jika memang dianggap perlu, mungkin pemerintah bisa membantu untuk mempatenkan, agar hak cipta baju barong tetap menjadi milik masyarakat Bali," jelas Pande Krisna beberapa tahun lalu dalam beberapa wawancara dengan media online.

Baca Juga: Desa Pancasari Buleleng Langganan Banjir, Perbekel Ungkap Kunjungan Komisi III DPRD Bali Cuma Melihat-lihat Saja, Tanya-tanya Sedikit

Meski demikian, Pande Yudi menyatakan jika sejak dibuat tahun 1969 hingga saat ini, penjualan kaos Barong selalu stabil.

Permintaan tak hanya datang dari wilayah Indonesia, tapi juga dari mancanegara. Kini baju atau kaos barong khas Bali ini dijual dengan harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu per buah. (gek)

 

Editor : Wiwin Meliana
#kaos barong #Hak paten #pande ketut krisna